Pak Gandi dan Tapak Kaki
by endahws | May 15, 2026 | Kisah Perjalanan

Kemarin, pada hari libur Kenaikan Yesus Kristus, saya kembali pergi ke Bogor. Kali ini bersama rombongan Bogor History Walk. Tujuannya adalah Prasasti Ciaruteun, batu besar bergambar tapak kaki Raja Purnawarman.
Ini bukan pertama kali saya ke sana. Saya pernah datang pada November 2025 bersama rombongan lain. Namun, rupanya satu kali kunjungan belum cukup.
Saat itu saya memikirkan cerita anak tentang tapak kaki Raja Purnawarman. Bukan cerita tentang perang atau kerajaan besar, melainkan tentang tapak kaki. Tentang jejak. Tentang bagaimana anak-anak membayangkan ukuran kaki seorang raja dari abad ke-5.
Namun, ada satu hal yang belum saya dapatkan: ukuran tapak kaki itu.
Berapa panjang kaki Raja Purnawarman?
Dan berapa ukuran tapak kaki gajahnya?
Saat kunjungan pertama, saya tidak membawa alat ukur. Waktu itu saya belum terpikir harus mengukur. Sepulang dari sana, saya mengirim pesan WhatsApp kepada Pak Gandi, penjaga prasasti.
Beliau menjawab dengan tenang:
ukuran tapak kaki raja sekitar 26 cm, sedangkan diameter tapak kaki gajah sekitar 50–55 cm.
Entah mengapa, saya ragu. Di internet ada yang menulis ukuran kaki raja mencapai 40 cm. Saya pun bimbang. Akhirnya tulisan tentang tapak kaki itu saya simpan dulu.
Saya menunggu kesempatan datang lagi ke Ciaruteun.
Karena itu, ketika ada jadwal ke sana dari Bogor History Walk, saya langsung mendaftar. Kali ini saya datang dengan persiapan berbeda: membawa pita pengukur kain. Itu satu-satunya alat ukur yang saya punya.
Sesampainya di prasasti, saya mulai mengukur diam-diam. Rasanya agak lucu juga. Saya membungkuk di depan batu sambil menarik pita ukur, berharap tidak terlalu menarik perhatian.
Ternyata tetap ada yang memperhatikan.
Akhirnya saya menjelaskan bahwa saya menulis buku anak. Dan untuk menulis cerita anak, data tetap harus akurat. Anak-anak boleh diajak berimajinasi, tetapi imajinasi tetap membutuhkan pijakan.
Saat itulah saya sadar, kesalahan saya sebelumnya bukan karena tidak bisa mengukur. Kesalahan saya adalah tidak mempercayai penjelasan Pak Gandi.
Padahal beliau sudah menjaga situs itu sejak tahun 1980-an. Selama puluhan tahun, Pak Gandi hidup bersama prasasti itu. Beliau bukan sekadar membuka pintu situs atau menemani pengunjung datang dan pergi. Pak Gandi tumbuh bersama cerita-cerita tentang batu itu.
Pak Gandi juga bercerita bahwa arkeolog terkenal dari Universitas Indonesia, Hasan Djafar, pernah menginap di rumahnya saat melakukan penelitian. Saya langsung terdiam mendengarnya.
Bagi saya, cerita itu menarik. Seorang arkeolog besar, yang meneliti masa lalu Nusantara, pernah tinggal di rumah seorang warga lokal penjaga prasasti. Ada hubungan pengetahuan yang terjalin di sana: antara akademisi dan warga desa, antara penelitian dan pengalaman sehari-hari.
Pak Gandi mungkin bukan penulis buku sejarah. Namanya tidak tercetak di prasasti atau jurnal penelitian. Namun, ia adalah warga lokal yang menjaga pengetahuan dengan caranya sendiri. Ia mengenal sejarah desanya, memahami cerita di balik batu-batu itu, dan menuturkannya dengan tenang kepada para pengunjung.
Ada sesuatu yang menarik dari pertemuan itu.
Saya datang untuk mencari ukuran tapak kaki Raja Purnawarman. Namun, yang justru saya temukan adalah jejak seorang penjaga situs sejarah.
Purnawarman meninggalkan tapak kaki di batu.
Pak Gandi meninggalkan jejak melalui penjagaannya.
Dan keduanya, dengan cara berbeda, membuat orang lain terus datang untuk belajar.