Aku Berpikir, Aku Menulis, Aku Ada

by | Jun 21, 2026 | Catatan Tetum

Tagline Kelas Menulis Tetum adalah Aku Berpikir, Aku Menulis, Aku Ada.

Saya mengadaptasi tagline ini dari ungkapan filsuf Prancis, René Descartes: cogito, ergo sumaku berpikir, maka aku ada. Melalui proses berpikir, Descartes menemukan kepastian bahwa dirinya sungguh hadir.

Saya kemudian mengadaptasi gagasan tersebut ke dalam pembelajaran menulis. Bagi saya, menulis bukan sekadar menggerakkan tangan atau merangkai kata. Menulis adalah hasil dari proses berpikir. Ketika seseorang mengamati, bertanya, membandingkan, merasakan, lalu menuangkannya menjadi tulisan, ia sedang menghadirkan pikirannya kepada orang lain.

Pemahaman itu semakin kuat ketika saya mendampingi kegiatan Meliput dan Menulis di Rumah Betawi Tiga Generasi.

Sebelum berangkat, anak-anak belum melihat rumah yang akan mereka kunjungi. Namun, mereka sudah diminta menyusun daftar pertanyaan. Ada yang ingin tahu mengapa rumah Betawi berbentuk panggung. Ada yang penasaran tentang usia rumah, fungsi ukiran, atau benda-benda kuno yang ada di dalamnya.

Pertanyaan-pertanyaan itu memperlihatkan bahwa mereka sebenarnya sudah mulai “berada” di Rumah Betawi, meskipun kaki mereka belum melangkah ke sana. Pikiran mereka telah bekerja. Mereka membayangkan, menduga, sekaligus menyiapkan diri untuk menemukan jawaban.

Sesampainya di lokasi, daftar pertanyaan itu tidak selalu dipakai begitu saja. Ada pertanyaan yang terjawab melalui pengamatan. Ada pula yang berkembang karena mereka menemukan hal-hal baru. Bahkan, muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Anak-anak bergerak mengikuti rasa ingin tahu mereka.

Di sinilah proses berpikir berlangsung secara nyata. Mereka tidak sekadar menerima informasi, tetapi aktif membangun pemahaman melalui pengamatan, percakapan, dan pengalaman langsung.

Pengalaman itu kemudian diolah menjadi tulisan. Mereka memilih informasi yang penting, menyusunnya menjadi laporan, lalu mengeditnya hingga layak dibaca.

Tulisan-tulisan tersebut diterbitkan dalam bentuk zine. Orang tua, guru, dan teman-teman membacanya. Mereka mengetahui apa yang diamati, dipikirkan, dan dirasakan oleh setiap anak selama berada di Rumah Betawi.

Pada saat itulah tulisan menjalankan perannya. Pikiran yang semula hanya ada di dalam diri seorang anak berpindah ke pikiran pembacanya. Pengalaman yang awalnya bersifat pribadi menjadi pengalaman bersama.

Karena itu, saya percaya bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan sebuah karya. Menulis adalah cara seseorang menghadirkan dirinya kepada orang lain. Semakin jernih seseorang berpikir, semakin bermakna pula kehadirannya melalui tulisan.

Itulah sebabnya saya memilih tagline:

Aku Berpikir, Aku Menulis, Aku Ada.