Belajar dari Balik Meja Juri: Catatan dari Lomba Mendongeng FLS3N

Tahun ini menjadi pengalaman yang berbeda bagi saya. Untuk pertama kalinya, saya duduk di kursi juri lomba mendongeng dalam ajang FLS3N tingkat Kecamatan Cilandak. Selama ini saya lebih banyak bergelut di dunia tulis-menulis, tetapi kesempatan ini membuka ruang baru untuk melihat bagaimana cerita hidup di atas panggung melalui suara dan ekspresi anak-anak.

Saya datang dengan rasa ingin belajar sekaligus berkontribusi. Di satu sisi, saya menikmati setiap penampilan anak yang berani tampil, mengolah suara, dan berusaha menghadirkan tokoh-tokoh dalam cerita mereka. Di sisi lain, sebagai juri yang juga membaca naskah, saya mendapatkan sudut pandang yang berbeda, yaitu melihat fondasi dari setiap penampilan: teks cerita itu sendiri.

Di sinilah saya menemukan sesuatu yang menarik sekaligus perlu menjadi perhatian bersama.
Banyak naskah yang dibawakan anak-anak ternyata masih mengandung unsur yang kurang sesuai untuk dunia anak. Bentuknya beragam. Ada kekerasan fisik, seperti tokoh yang dipukul, dibuang, atau dicelakakan secara sengaja. Ada pula kekerasan verbal, berupa kata-kata merendahkan atau menghina yang diucapkan antar1tokoh. Tidak sedikit juga yang memuat kekerasan psikologis, misalnya ancaman, penelantaran, atau perlakuan tidak adil yang cukup berat secara emosional.

Selain itu, saya juga menemukan konteks yang terasa terlalu dewasa untuk anak, seperti konflik rumah tangga, tekanan hidup orang tua, atau persoalan yang belum tentu dapat dipahami secara utuh oleh anak. Beberapa naskah bahkan mengangkat unsur mistis yang disajikan tanpa pengolahan yang tepat, sehingga berpotensi menimbulkan rasa takut, bukan rasa ingin tahu atau keindahan imajinasi.

Hal-hal ini tentu tidak muncul tanpa sebab. Dalam Juknis FLS3N disebutkan bahwa peserta boleh menyadur dari berbagai sumber, termasuk cerita rakyat dan legenda. Masalahnya, tidak semua cerita rakyat secara mentah cocok untuk dibawakan anak. Banyak cerita lama yang memang lahir dalam konteks zaman yang berbeda, dengan konflik yang keras dan simbolik. Tanpa proses penyaringan dan pengolahan ulang, cerita tersebut bisa kehilangan relevansinya untuk anak masa kini.

Di sinilah saya merasa penting untuk tidak hanya menilai, tetapi juga berbagi.

Sebagai bentuk tanggung jawab, saya menuliskan reviu atas beberapa naskah dan menyampaikannya kepada panitia. Reviu tersebut tidak dimaksudkan sebagai kritik semata, tetapi sebagai bahan refleksi bersama. Saya mencoba mengulas dari sisi kelayakan dongeng anak, struktur cerita, kebahasaan, hingga muatan nilai yang disampaikan. Harapannya sederhana, semoga catatan tersebut dapat diterima dengan baik dan menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kualitas lomba di masa mendatang.

Bagi saya pribadi, pengalaman ini mengingatkan kembali bahwa mendongeng bukan hanya soal tampil di depan. Mendongeng adalah proses panjang yang dimulai dari memilih cerita, mengolahnya, memahami maknanya, lalu menyampaikannya dengan penuh kesadaran.

nak-anak yang tampil di panggung adalah wajah dari proses itu. Mereka membawa cerita yang kita berikan kepada mereka. Jika ceritanya baik, maka nilai baik itu yang akan mereka sampaikan. Jika ceritanya kurang tepat, maka hal itu pula yang tanpa sadar akan ikut tersebar.

Karena itu, saya percaya bahwa lomba seperti ini memiliki potensi yang sangat besar. Bukan hanya untuk melatih keberanian dan keterampilan bertutur, tetapi juga untuk menanamkan nilai. Dengan pendampingan yang tepat, dengan pemilihan naskah yang lebih cermat, kita bisa menjadikan panggung mendongeng sebagai ruang tumbuh yang utuh bagi anak.

Bukankah sejak dahulu cerita hadir untuk menuntun, bukan sekadar menghibur?

Semoga ke depan, kita bisa bersama-sama menguatkan ekosistem ini. Guru, orang tua, pembina, dan penyelenggara berjalan beriringan. Anak-anak pun tidak hanya menjadi pencerita yang baik, tetapi juga pembawa pesan kebaikan. |