Kala Mega Mendung di Resto Biru
Biru Putih
Pada website Nur Corner, terlihat dominasi nuansa biru pada restoran tersebut. Biru menyiratkan kedamaian, keluasan, serta alam yang dingin, tinggi, dan dalam, seperti laut dan langit. Saya sempat berpikir, unik juga restoran yang mengusung produk lokal memilih biru sebagai company color.
Namun, biru juga memiliki unsur kelabu.
Itulah yang saya rasakan ketika tiba di Nur Corner. Saat itu hujan deras, dan kemacetan di Jalan Antasari membuat waktu tempuh lebih panjang. Saya datang bersamaan dengan tamu-tamu lain yang ingin makan siang, sementara belum seorang pun di antara kami melakukan reservasi.
Galaunya perasaan saya mungkin sama dengan hiruk-pikuk kendaraan yang datang dan pergi di depan restoran. Halaman restoran tidak seluas yang saya bayangkan. Pagar dibuat menjorok ke dalam, sedangkan bagian luar dipakai sebagai area parkir. Namun mobil pengunjung lebih banyak daripada daya tampung parkiran.
Wah, kemungkinan mendapatkan meja semakin tipis.
Dan benar saja. Seorang pramusaji lelaki yang masih belia mengatakan tidak ada meja untuk tujuh orang.
Saya pun berdiri menatap hujan, mobil yang datang pergi, dan orang yang keluar masuk. Sungguh lengkap haru biru saya.
Sambil menunggu, saya mengamati sekeliling. Akhirnya saya mafhum mengapa resto ini bernuansa biru. Batik mega mendung Cirebon tersebar di mana-mana. Para pramusaji mengenakan seragam bermotif mega mendung. Buku menu dipenuhi elemen motif yang sama. Bahkan pembungkus sendok pun memakai corak mega mendung.
Saya jadi teringat bahwa busana Bu Nur Asia Uno juga sering bermotif mega mendung, terutama sejak Pak Sandi menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Mungkin motif ini memiliki makna khusus baginya.
Dengan mengamati sekeliling resto, perlahan perasaan biru kelam saya berubah menjadi biru yang tenang.
Mungkin juga karena saya sudah lebih tenang, energi positif pun datang. Kami akhirnya dipersilakan ke sebuah sudut oleh pramusaji. Tepatnya, Betsy—salah satu teman kuliah saya—berhasil mendapatkan tempat duduk untuk bertujuh.
Bersih
Bersih
Kesan bersih terasa karena penggunaan warna putih pada hampir semua bagian bangunan. Pagar, dinding, kusen, dan pintu berwarna putih, dengan sedikit sentuhan biru. Furniturnya pun bernuansa putih dan biru. Sofa yang kami duduki berwarna biru, menempel pada dinding putih yang dihiasi lukisan bunga minimalis.
Saya suka musalanya yang luas. Saya menduga ruangan itu dulunya merupakan master bedroom. Ruang salat ini bernuansa krem, dengan permadani besar yang hampir menutup seluruh lantai. Pada bagian yang tidak tertutupi permadani, terdapat runner rug yang tampak seperti koleksi pribadi.
Di depan area musala terdapat wastafel biru dengan anggrek bulan putih. Saya melihat seorang petugas berkali-kali mengelap area itu.
Sudut tempat duduk kami juga dilap terlebih dahulu sebelum kami duduk.
Setelah selesai makan pun, pramusaji dengan sigap bertanya apakah piring kosong boleh diambil.
Ramah
Saya mendapat kesan bahwa Nur Corner adalah resto yang ramah sejak mengirim pesan reservasi pada pagi hari.
“Mohon maaf sekali, untuk reservasi maksimal H-1 dan tidak bisa di hari yang sama. Untuk hari H bisa langsung go show saja, Ibu.”
Jawaban itu terasa ramah karena tetap memberi solusi.
Ketika kami memutuskan menunggu meja kosong, staf Nur Corner juga menerima dengan baik.
“Tapi tidak ada tempat menunggu ya, Bu,” kata mereka.
Pramusaji di Nur Corner rata-rata masih muda, mungkin berusia 20-an. Mereka gesit dan melayani permintaan kami dengan cepat, mulai dari tambahan makanan hingga membantu memotret.
Spicy
Sekarang kita bahas soal hidangannya.
Pramusaji dapat menjelaskan menu dan memberi rekomendasi bila kita tanya. Misalnya, ketika saya tanya minuman signatur di resto itu, pramusaji menunjukkan gambar Teh Nur Coner. “Teh pakai pandan,” katanya.
Karena lapar, saya pesan menu nasi. Saya tertarik pada Nasi Campur Bali. Di foto terlihat piring putih ditataki daun pisang. Hidangan yang tersaji adalah nasi putih, satai lilit, telur pindang, ayam, ayam suwir, dan tumis singkong.
Setelah memesan makanan, saya salat. Ternyata ketika saya kembali, Nasi Bali sudah tersaji. Pesanan teman-teman pun sudah tiba, bahkan Betsy sudah menghabiskan bubur ayam. Penyajian di Nur Cafe ternyata GPL (Gak Pake Lama).
Pelan-pelan tumpeng Nasi Bali saya potong. Saya kunyah dengan telur pindang. Tekstur nasinya pas, dan telur pindangnya enak. Namun lauk yang lain terlalu tajam rasanya untuk saya, baik satai lilit, ayam suwir, maupun singkong tumis.
“Ya, pastilah itu kan makanan Bali,” kata Anung, yang duduk di sebelah saya. Mungkin juga lidah saya menjadi lebih sensitif terhadap rasa. Saya merasa lebih bisa menerima seandainya ketajaman bumbu diturunkan dua level.
Saya pun “bertualang” mencicipi pesanan teman-teman, kecuali Bubur Ayam, karena sudah habis. Padahal Bubur Ayam ini diklaim terenak se-Asia Tenggara oleh Nur Corner.
Saya merasa cocok dengan rasa soto Betawi milik Agung. Kuah santannya berbumbu sedang.
Nasi Goreng Cumi pesanan Nining terlalu asin untuk saya. Nining pun mengatakan begitu, sehingga saya merasa lidah saya punya teman.
Pelan-pelan saya menghabiskan Nasi Bali saya. Kami mengobrol dan tertawa, sehingga tidak terasa makanan di piring saya habis juga.
Hujan reda. Makanan dan minuman habis. Kami pun berpisah. Saya melintasi lagi halaman yang basah, dan kursi biru di halaman.
Hidangan di Nur Corner tidak sebiru lambangnya. Artinya, rasa yang dihadirkan pada beberapa sajian kurang “tenang”, alias terlalu spicy. Mungkin juga lidah saya yang ingin ketenangan.
Berapa Rp?
(Sebagian Pesanan Kami)

Makanan Kecil
- Biterbalen Rp37.000
- Singkong Keju Rp35.000

Hidangan Utama
- Soto Betawi Rp55.000
- Nasi Campur Bali Rp90.000
- Nasi Goreng Cumi Hitam Rp75.000

Minuman
- Teh Hangat Rp15.000
- Nur Corner Tea Rp Rp35.000
- Air Mineral Rp15.000
- Americano Rp40.000
