Kupat Membuat Mandiri
by endahws | May 24, 2026 | Kisah Perjalanan

Ada sesuatu yang membuat saya berpikir ketika berkunjung ke Kampung Ketupat di Cimahpar, Bogor Utara.
Di bawah terik matahari, saya mengikuti Kang Ian dari Bogor Historical Walk, menyusuri jalan yang naik turun. Sampailah kami di sebuah perkampungan dengan rumah-rumah tembok, dikelilingi pohon singkong dan talas. Di depan rumah-rumah itu, beberapa perempuan duduk menganyam kulit ketupat. Di halaman tampak dandang-dandang raksasa dan tumpukan kayu bakar.
Dari tempat yang tampak sederhana itulah ribuan ketupat lahir.
Pak Endang, Ketua RW 04, menjelaskan tentang perkampungan ketupat itu. Warga di sana sudah turun-temurun menjalankan usaha tersebut. Dahulu wilayah itu belum dikenal sebagai Kampung Ketupat. Baru ketika pemerintah memasukkannya ke dalam Program P2WKSS (Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera) pada tahun 2023, wilayah itu mulai dikenal dengan julukan “Kampung Ketupat”.
Program tersebut membuat warga menjadi lebih berdaya, salah satunya melalui penyebaran informasi di media sosial.
Namun, jauh sebelum memiliki nama Kampung Ketupat, tradisi itu sebenarnya sudah mengakar. Apalagi ketupat juga berkaitan dengan nilai spiritual.
Kang Ian menjelaskan bahwa “kupat” sering dimaknai sebagai singkatan dari laku papat, atau empat perilaku:
- Lebaran, dari kata lebar, yang dimaknai sebagai membuka pintu maaf untuk orang lain.
- Luberan, dari kata luber, yang berarti melimpahi atau memberi kepada orang lain.
- Leburan, dari kata lebur, yang berarti melebur dosa.
- Laburan, dari kata labur atau mengecat dengan kapur, yang berarti menjadi putih kembali.
Dengan pemaknaan yang demikian dalam, ketupat menjadi makanan yang hampir selalu hadir saat Lebaran. Tradisi itu kemudian berkembang menjadi sumber ekonomi.
Ketika tradisi sudah berbicara, rakyat sebenarnya mempunyai kemampuan untuk hidup mandiri dengan cara yang sederhana. Kemandirian itu muncul dari hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Saya bukan ahli ekonomi, hanya ibu-ibu sederhana yang berpikir sederhana. Saya melihat kampung ini memiliki kaki yang kuat, tetapi mereka tetap membutuhkan jaringan di luar diri mereka. Mereka membutuhkan beras. Mereka memerlukan daun kelapa yang didatangkan dari Sukabumi. Mereka membutuhkan transportasi agar hasil karya mereka sampai ke dunia luar. Dan satu hal lagi: mereka membutuhkan masyarakat yang tetap menjaga kebiasaan makan ketupat dan makanan turunannya, seperti doclang.
Di situ saya melihat rantai yang saling menghidupi.
Ada petani padi. Ada pemasok daun. Ada pembuat kulit ketupat. Ada penjual ketupat. Ada penjual makanan. Ada pembeli. Semuanya bergerak secara alami.
Mungkin kita sering membayangkan pembangunan sebagai sesuatu yang megah. Padahal, di banyak tempat kehidupan berjalan karena orang-orang biasa menjaga keterampilan, budaya, dan kebutuhan sehari-hari.
Barangkali kekuatan sebuah masyarakat tidak hanya terletak pada apa yang baru diciptakan, tetapi juga pada kemampuan memelihara hal-hal sederhana yang membuat banyak orang tetap bisa hidup.