Kejutan dari Menulis Cita-Cita

Ketika membuka kelas menulis dengan tema Kartini, saya membatasi peserta untuk usia 9 tahun ke atas. Dalam pertimbangan saya, pada usia itu anak sudah memasuki tahap operasional konkret menurut Jean Piaget. Artinya, mereka mulai mampu berpikir logis dan memikirkan sesuatu yang belum terjadi, terutama jika dikaitkan dengan hal-hal nyata yang mereka alami.
Karena itu, ketika meminta peserta menulis cita-cita, saya mengajak mereka melihat sisi konkret yang sudah mereka lakukan untuk mencapai cita-citanya. Bukan hanya “aku ingin menjadi …” lalu selesai. Mereka diajak melihat: apa yang sudah dilakukan sekarang?
Ini sebetulnya salah satu trik kecil dalam mengajar menulis. Kita arahkan anak menulis dari sesuatu yang nyata, yang pernah dilihat, dilakukan, atau dirasakan. Menariknya, dari situ justru sering muncul hal-hal yang tidak terduga.
Anak-anak ternyata cukup cerdas untuk mengaitkan sesuatu yang futuristik dengan keadaan nyata yang sedang mereka alami. Cita-cita mereka boleh membubung tinggi, tetapi kaki mereka tetap menapak di tanah.
Ibarat memegang benang layangan. Layangan boleh naik setinggi mungkin, mengikuti angin dan langit yang luas. Namun, benangnya tetap perlu dipegang agar ia melayang indah dan tidak tersangkut ke mana-mana.
Hasilnya, memang luar biasa.
Ada seorang anak yang ingin kuliah di Jepang. Jepang tentu terdengar jauh. Naik pesawat berjam-jam, budaya berbeda, bahasa berbeda. Namun, ia tidak memulainya dengan membayangkan hidup mewah atau gedung-gedung tinggi. Ia memulainya dengan sesuatu yang kecil: belajar mengucapkan arigatou gozaimasu. Terima kasih.
Saya tersenyum ketika membaca bagian lain tulisannya. Kelak kalau ke Jepang, ia ingin membeli oleh-oleh. Sangat Indonesia. Ke mana pun pergi, rasanya ada keinginan untuk pulang sambil membawa sesuatu untuk orang lain.
Anak lain menulis bahwa ia ingin menjadi chef tingkat dunia. Kedengarannya besar sekali. Namun, ia tidak langsung membayangkan restoran megah atau acara memasak di televisi. Ia justru menyadari sesuatu yang sederhana: ia takut minyak panas. Ada kejujuran yang menyenangkan di situ. Ia tahu bahwa untuk mencapai sesuatu, ada hal kecil yang perlu diatasi lebih dulu.
Ia juga mempunyai keinginan sederhana yang lain. Ia ingin merasakan makanan tanpa harus membeli, dan suatu hari ingin memasakkan makanan untuk Bunda dan Yanda saat mereka tua.
Lalu ada seorang anak yang sangat menyukai Pokémon. Ia ingin mewujudkan mimpinya dengan belajar menggambar Pokémon. Yang membuat saya berhenti lebih lama adalah idenya membuat komunitas penyuka Pokémon. Sangat masa kini. Dahulu mungkin anak-anak mengumpulkan teman bermain di lapangan. Sekarang mereka membentuk kelompok berdasarkan minat yang sama. Namun intinya ternyata tidak berubah: manusia ingin menemukan teman seperjalanan.
Dari tulisan-tulisan itu saya semakin yakin bahwa anak usia 9–11 tahun memang sudah bisa melompat jauh ke masa depan. Namun, mereka tetap perlu dibantu melihat langkah pertamanya.
Cita-cita tidak selalu dimulai dari hal yang besar. Kadang-kadang dimulai dari belajar mengucapkan terima kasih. Dari berani mendekati minyak panas. Atau, dari mencari teman yang sama-sama menyukai Pokémon.
Saya membayangkan Ibu Kartini pasti senang melihat anak-anak Indonesia hari ini. Cita-cita mereka boleh membubung tinggi, tetapi mereka sudah mulai memegang benangnya.
Mereka seperti Kartini
Di bawah ini adalah tulisan anak-anak secara utuh dari kegiatan “Aku Menulis seperti Kartini”.
Tulisan-tulisan ini menunjukkan bahwa cita-cita besar dimulai dari hal yang disukai. Masing-masing menulis tentang langkah kecil yang telah diambil.
