Kartini, Kepedulian, dan Suara Anak

Kartini, Kepedulian, dan Suara Anak

Kartini, Kepedulian, dan Suara Anak

   Ketika kita menyebut nama Kartini, yang sering muncul di benak adalah kebaya, surat-surat, dan gagasan tentang emansipasi. Namun, jika kita membaca lebih pelan, lebih dalam, ada satu hal yang terasa sangat kuat dari dirinya: kepedulian.

     Kartini tidak hanya berpikir tentang dirinya. Ia memikirkan orang lain, terutama anak-anak perempuan di zamannya. Ia melihat keterbatasan yang mereka hadapi: tidak bisa bersekolah, tidak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar. Dari situlah kepedulian itu tumbuh.

     Yang menarik, kepedulian Kartini tidak berhenti pada rasa. Ia menjadikannya tindakan. Ia menulis. Ia menyuarakan. Ia membuka ruang, agar orang lain bisa melihat apa yang selama ini tersembunyi. Dalam tulisannya, kepedulian berubah menjadi gagasan, dan gagasan berubah menjadi gerakan.

     Dalam kegiatan menulis bersama anak-anak, saya menemukan gema yang serupa, dalam bentuk yang sangat sederhana.

     Ketika diminta menulis tentang pengalaman membantu orang lain, menulis tentang hal-hal kecil di sekitar mereka. Ada yang membantu temannya mengambil botol minum. Ada yang membantu mengerjakan tugas. Ada yang berbagi uang jajan. Hal-hal yang mungkin sering kita anggap biasa. Namun, justru di situlah letak maknanya.

     Dari tulisan-tulisan itu terlihat bahwa anak-anak memiliki insting peduli. Mereka peka terhadap keadaan orang lain. Mereka bisa melihat ketika temannya kesulitan, dan mereka tergerak untuk melakukan sesuatu.

      Di tengah kesederhanaan itu, muncul juga kedalaman berpikir yang tidak terduga. Salah satu anak menuliskan bahwa ia tetap menolong, meskipun orang yang ia tolong tidak selalu bersikap baik kepadanya. Di titik ini, kepedulian tidak lagi sekadar tindakan. Ia menjadi pilihan nilai. Sebuah keputusan untuk tetap berbuat baik, tanpa bergantung pada bagaimana orang lain bersikap. 

     Membaca tulisan-tulisan ini, saya merasa bahwa benang merah antara Kartini dan anak-anak ini adalah pada arah hatinya. Kartini peduli pada pendidikan perempuan. Anak-anak ini peduli pada teman-temannya. Skalanya berbeda, tetapi sumbernya sama: kepekaan terhadap orang lain dan keinginan untuk berbuat baik.

     Kartini menuliskan kepeduliannya agar dunia berubah. Anak-anak menuliskan kepedulian mereka agar pengalaman itu hidup kembali. Dan mungkin, di situlah letak pentingnya kegiatan menulis ini. Menulis bukan hanya merangkai kata, tetapi menjadi cara untuk menyadari kembali apa yang kita lakukan. Menulis adalah cara untuk memberi makna pada kebaikan-kebaikan kecil.  

     Di tengah dunia yang sering terasa keras, tulisan anak-anak ini mengingatkan kita pada sesuatu yang mendasar: Bahwa kepedulian tidak harus menunggu besar. Bahwa kebaikan tidak harus menunggu sempurna.

      Dan bahwa, seperti Kartini kita selalu punya pilihan untuk peduli, lalu menuliskannya, agar kebaikan itu tidak hilang begitu saja. 

Mereka seperti Kartini

Di bawah ini adalah tulisan anak-anak secara utuh dari kegiatan “Aku Menulis seperti Kartini”.

Tulisan-tulisan ini menunjukkan bahwa kepedulian bisa dimulai dari hal kecil.

Senang Membantu Teman

Oleh Adeeva Shakila Azzahra

     Aku senang membantu teman-temanku, terutama ketika mereka lelah. Misalnya, saat pelajaran olahraga, aku mengambil botol minum. Sakti berkata, “Sha, titip ambilkan botol minumku yang hitam.” Deesa juga berkata, “Sha, tolong ambilkan botol minumku juga.” Aku pun membantu mengambilkan botol minum mereka. Tidak sulit, karena sekalian aku mengambil botolku.

     Pada suatu hari Jumat, aku membantu petugas piket karena pada hari sebelumnya aku tidak masuk. Aku membuang air AC dan menghapus papan tulis. Aku juga meraut pensil teman-teman dan menyapu kelas.

     Kadang-kadang situasinya berbeda. Aku dan temanku saling bekerja sama. Saat akan belajar, aku berkata kepada Agira, “Gir, tolong ambilkan aku kertas. Nanti aku ambilkan pensil dan penghapus untukmu.” Agira setuju. Ia mengambilkan kertas, dan aku mengambilkan pensil serta penghapus untuknya.

     Ada rasa senang setelah membantu teman. Aku tidak tahu perasaan orang yang kubantu, tetapi aku berharap mereka juga merasa senang. 

Menolong dengan Tulus

Oleh Made Dewi Dharma Pracanthi

     Aku pernah menolong teman di Sekolah Minggu. Saat itu, kami sedang mengerjakan tugas agama Hindu. Temanku tidak bisa mengerjakan tugasnya, jadi aku membantu agar ia bisa selesai.

     Setelah selesai, ia makan siang. Ia berkata, “Terima kasih.” Aku menjawab, “Sama-sama.” Ia terlihat sangat senang dibantu. Aku juga merasa senang karena bisa menolong.

     Sekarang ia tidak baik lagi kepadaku. Aku jadi tidak ingin berteman seperti dulu.

     Suatu hari, ia meminta makananku. Aku tetap memberinya. Ia makan dengan senang.

     Aku belajar bahwa menolong orang lain tetap penting, meskipun kadang mereka tidak selalu bersikap baik kepadaku. 

 

Ayo ke Kantin, Aqila!

Oleh Khaula Nadira Suryo

     Aku pernah menolong temanku di sekolah. Namanya Aqila. Kami sering berangkat bersama saat masih kelas 3. Kami selalu senang jika bisa pergi ke sekolah bersama.

     Suatu hari, Aqila sangat terburu-buru karena hampir terlambat. Kami berlari agar bisa sampai tepat waktu. Saat kami masuk kelas, bel pun berbunyi.

     Tiba-tiba, Aqila teringat bahwa uang jajannya tertinggal. Ia panik. Orang tuanya sudah berangkat kerja, jadi tidak bisa mengantarkan uang.

     Saat bel istirahat berbunyi, biasanya Aqila langsung ke kantin. Namun hari itu, ia hanya duduk melamun di kelas, sementara teman-teman lain pergi jajan.

     Aku merasa kasihan melihatnya. Aku pun memberi setengah uang jajanku. Namun, ia menolak karena tidak enak jika aku yang memberi. Ia menyuruhku memakai uang itu untuk diriku sendiri.

     Aku tetap ingin membantunya. Saat aku memberikan uang itu lagi, aku langsung berlari pergi agar ia mau menerimanya. Akhirnya, Aqila

pergi ke kantin untuk jajan.

     Ia sangat berterima kasih kepadaku. Aku sendiri merasa ikhlas. Menolong orang lain adalah hal yang baik. Aku juga senang melihatnya kembali ceria dan tidak melamun lagi.

“Aku Senang Belajar”

“Aku Senang Belajar”

“Aku Senang Belajar”

        Banyak orang merayakan Hari Kartini dengan berkebaya. Itu tidak salah. Raden Ajeng Kartini lahir di Jawa Tengah, tempat perempuan mengenakan kebaya dalam keseharian mereka. Namun, apakah peringatan Kartini cukup berhenti pada pakaian?

        Kita bisa mengenal Kartini lebih dalam dari hal sederhana: apa yang ia sukai. Kartini senang belajar. Ia membaca, menulis, dan berpikir. Dari kebiasaan itulah lahir gagasan-gagasan yang terus hidup hingga hari ini.

        Pada Hari Kartini lalu, saya dan Kelas Menulis Tetum membuat kegiatan “Aku seperti Kartini”. Anak-anak diajak menulis tentang hal yang mereka sukai, terutama dalam belajar. Ada yang menulis tentang menghafal Al-Qur’an, ada juga yang menulis tentang meraih cita-cita.

        Dari tulisan mereka terlihat bahwa kesenangan belajar hadir dalam berbagai bentuk. Namun, kesenangan itu sering kali perlu pemantik. Anak perlu dibukakan pada sesuatu yang dekat dengan hidupnya, yang membuatnya ingin mencoba.

        Pemantik itu bisa sederhana: pengalaman kecil, ajakan, atau contoh. Ketika anak berkata, “Aku juga ingin mencoba,” di situlah proses belajar mulai tumbuh dari dalam dirinya.

        Kartini pun demikian. Ia menemukan pemantik dari buku dan perjumpaan dengan gagasan. Dari sana, tumbuh kesenangan belajar yang ia rawat.

        Anak-anak hari ini juga memulai dari hal yang sama. Mereka membutuhkan ruang untuk mencoba dan menemukan apa yang mereka sukai. Tugas kita adalah menghadirkan pemantik itu, lalu memberi

Mereka seperti Kartini

Berikut beberapa tulisan anak yang menunjukkan bagaimana semangat belajar tumbuh dari hal sederhana.

Perjalanan Menghafal Al=Qur'an

Oleh Haniya Naddakhatani

        Saat kelas dua, aku melihat kakak kelasku menamatkan juz 30 di suatu acara. Aku sangat kagum pada pencapaian dan usahanya. Ia baru kelas tiga, tetapi sudah bisa menghafal juz 30. Aku melihatnya membaca Al-Qur’an dengan tenang dan lancar.

        Setelah acara selesai, aku menghampiri Bunda dan menyampaikan keinginanku.

        “Bunda, aku mau menghafal Al-Qur’an seperti Kak Nava,” ucapku penuh semangat.

        Bunda langsung menyemangatiku. “Tentu saja boleh.”

        Sejak hari itu, aku bersama abangku mulai menghafal Al-Qur’an. Hingga suatu hari, aku berdiri di depan guru-guru penguji yang siap mendengarkan bacaanku. Dengan gugup, aku mulai melantunkan hafalan. Walau belum lancar, aku berhasil menyelesaikannya.

        Setelah menamatkan juz 30, targetku berikutnya adalah juz 1. Aku mulai menghafal dengan penuh semangat di awal kelas 3. Namun, saat akhir kelas 4, semangatku mulai menghilang. Hafalan yang sudah kuhafal perlahan-lahan lupa. Aku merasa tidak bersemangat lagi.

        Aku hanya melihat teman-temanku melesat seperti peluru. Mereka terus maju dengan cepat. Kakak kelasku yang dulu sangat kuidolakan bahkan sudah hampir menamatkan lima juz. Sampai kelas lima, nilaiku menurun dan semangatku hilang. Bunda terus menyemangatiku, tetapi aku hanya mengangguk.

        Di awal kelas enam, semangatku kembali. Namun sayang, hafalanku sudah lama tidak dijaga. Di kelas enam, guru tahsin juga memiliki target baru, yaitu melancarkan bacaan Al-Qur’an. Walau begitu, aku tetap ingin mencapai targetku.

        Aku mulai menghafal kembali dengan serius. Setiap hari aku mencoba, tetapi hafalanku terasa sulit kembali. Kadang aku menangis. Aku hampir ingin menyerah. Abiku berkata bahwa menghafal akan lebih mudah jika aku lancar membaca Al-Qur’an.

        Setelah ujian tengah semester dengan hasil yang cukup baik, aku diminta untuk tasmi’, seperti lima tahun lalu saat aku membacakan juz 30. Aku merasa gugup karena hafalanku belum kuat, tetapi aku bertekad untuk mencobanya.

        Di awal Desember, jadwal tasmi’-ku semakin dekat. Aku mulai mengurangi waktu bermain untuk menghafal. Aku juga meminta sahabatku untuk mendengarkan bacaanku. Aku senang karena ia bersedia membantu. Di rumah, Abi juga sering mendengarkan hafalanku. Bahkan saat waktu senggang, temanku ikut membantu.

        Pada hari pelaksanaan, aku menunggu giliran sambil terus menghafal. Tiba-tiba, salah satu guruku datang dan menawarkan bantuan untuk mendengarkan bacaanku. Aku merasa senang dan terbantu.

        Akhirnya, tiba giliranku. Aku maju dengan perasaan gugup. Rasanya sama seperti lima tahun lalu: ditatap guru penguji, didengar orang tua, dan diperhatikan teman-teman. Aku berusaha menguatkan diri.

        Satu jam kemudian, aku berhasil menyelesaikan tasmi’ dengan lancar.

        Aku sangat bahagia. Saat sesi tanya jawab, abangku yang sedang bersekolah di pesantren ternyata bisa hadir. Aku mengakhiri hari itu dengan penuh suka cita.

        Aku bersyukur kepada diriku sendiri karena sudah berusaha dan bersabar. 

Belajar Bertahap

Oleh Rakandaru Dhanasworo

        Aku ingin belajar sejarah bangsa Rusia, Jerman, Italia, Amerika, Kanada, dan Brunei. Aku juga sudah pernah belajar tentang sejarah BPUPKI dan sejarah bangsa Indonesia.

        Aku ingin pergi ke museum di luar negeri untuk mempelajari sejarah negara lain. Aku ingin melihat langsung benda-benda bersejarah dari berbagai bangsa.

        Selain itu, aku juga punya mimpi menjadi pembalap Indonesia yang ikut balapan Formula 1. Aku ingin balapan sampai ke Jepang. Aku juga ingin bekerja seperti B.J. Habibie yang membuat pesawat.

        Dari banyak hal yang ingin kupelajari, sekarang aku mulai dari yang bisa kulakukan. Aku belajar dengan sungguh-sungguh, mendengarkan berita, dan membaca buku.

        Pergi ke museum luar negeri memang masih jauh karena aku masih kecil. Untuk sekarang, aku pergi ke museum yang dekat. Aku pernah mengunjungi Museum Wayang di Jakarta. Aku juga pernah ke Museum Borobudur di Magelang.

        Aku akan terus belajar sedikit demi sedikit, sampai suatu hari nanti aku bisa menjelajah dunia. 

Paralemper

Paralemper

Ketika diminta mengajar paragraf di kelas 3, saya mulai berpikir. Bagaimana cara memperkenalkan paragraf secara konkret kepada anak-anak? Selama ini, paragraf sering dijelaskan sebagai satuan pikiran yang terstruktur. Namun, bagi anak, penjelasan itu masih terasa jauh.

Dulu, saya pernah menggunakan burger sebagai alat bantu. Dari situ muncul istilah “paraburger”. Beberapa waktu kemudian, ketika saya tidak mengajar di kelas, pendekatan itu tetap digunakan oleh guru-guru lain.

Saat kembali mengajar, saya merasa perlu mencari pendekatan yang bersifat lokal. Saya teringat pada lemper, penganan tradisional yang terdiri dari ketan, isi, dan bungkus daun pisang.

Di situlah muncul gagasan baru. Bukankah paragraf juga tersusun dari beberapa bagian? Setidaknya, anak mulai belajar dari tiga kalimat. Lemper terasa pas sebagai alat bantu.

Dari pemikiran itu, saya mengembangkan pendekatan yang saya sebut Paralemper. Pendekatan ini saya rancang agar anak dapat memahami paragraf melalui sesuatu yang mereka kenal, lihat, dan bahkan bisa mereka buat sendiri. Begitu diminta oleh guru kelas 3, saya terpikir untuk membuat buku Paralemper. Namun, buku itu masih dalam tahap draf.

Dalam praktiknya, pembelajaran tidak langsung dimulai dengan membuat lemper. Anak-anak terlebih dahulu diajak mengenal bagian-bagian lemper. Dari sana, pembahasan ditarik ke bagian-bagian paragraf.

Latihan dilakukan berulang. Anak-anak mulai dengan menganalisis contoh yang saya berikan. Setelah itu, mereka mencoba membuat paragraf sederhana secara berkelompok, cukup tiga kalimat. Ketika sudah lebih percaya diri, mereka melanjutkan dengan paragraf yang lebih panjang, sekitar lima sampai enam kalimat.

Setelah terlihat mulai memahami, barulah mereka diajak membuat lemper. Kegiatan ini menjadi semacam perayaan atas pemahaman mereka. Di saat yang sama, mereka juga semakin mengenal struktur lemper secara nyata.

Dengan cara ini, konsep paragraf tidak hanya dipahami, tetapi juga dialami.

Bagi saya, mengajar adalah mencari jalan agar konsep itu bisa dipahami. Paralemper mungkin hanya sebuah analogi sederhana. Namun, dari pengalaman di kelas, anak-anak lebih mudah memahami paragraf ketika mereka melihat bentuknya secara nyata.

Mereka tidak hanya menulis. Mereka memahami. Mereka tidak hanya mengikuti. Mereka mengalami.

Mungkin, itulah yang kita cari dalam pembelajaran. Sebuah cara yang dekat, sederhana, dan bermakna.

 

Ketika Lima Anak Menulis untuk Bumi

Ketika Lima Anak Menulis untuk Bumi

Saya membimbing lima anak untuk mengikuti lomba menulis surat untuk Bumi. Mereka dipilih agar memiliki pengalaman menulis lebih panjang.  

Kami bertemu beberapa kali dalam kegiatan yang disebut “kamp”. Dari pertemuan-pertemuan itu, saya  mengamati bagaimana anak-anak menulis.

Hal pertama yang saya temukan adalah: anak-anak perlu dilatih untuk mengembangkan gagasan. Banyak dari mereka sudah punya ide. Bahkan idenya bagus. Tentang banjir, sampah, hutan, dan bumi yang rusak. Namun, ide itu sering berhenti di satu kalimat.

“Aku tidak suka banjir.”
“Kita harus menjaga lingkungan.”

Kalimat-kalimat ini benar, tetapi belum berkembang. Saat ditanya lebih jauh, barulah cerita muncul. Ada anak yang kemudian bercerita tentang rumahnya yang pernah kebanjiran. Ia ingat bagaimana ia dibangunkan saat masih mengantuk, naik ke lantai atas, lalu keesokan harinya harus membersihkan rumah yang kotor dan berbau. Dari satu kalimat sederhana, lahir satu pengalaman yang utuh.

Ada juga anak yang awalnya hanya menulis, “Aku membuang sampah pada tempatnya.” Ketika ditanya, ia mulai bercerita tentang dua tempat sampah di rumahnya. Ia menjelaskan mana yang organik dan mana yang nonorganik, bahkan sampai pada kebiasaan ibunya membuang cangkang telur. Tiba-tiba tulisannya menjadi hidup, karena ada detail yang nyata.

Di sinilah peran pendamping menjadi penting. Anak-anak membutuhkan pancingan. Pertanyaan kecil yang membuka pintu.

“Kenapa kamu tidak suka banjir?”
“Pernah mengalami?”
“Apa yang kamu rasakan?”
“Di rumahmu seperti apa?”

Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, tulisan mulai bergerak. Dari satu kalimat, menjadi satu paragraf. Dari gagasan umum, menjadi pengalaman yang bisa dilihat dan dirasakan.

Hal kedua yang saya temukan adalah: anak-anak sebenarnya haus menulis secara autentik. Namun, mereka sering merasa bahwa menulis harus “besar”. Harus berbicara tentang dunia, dan solusi yang luas. Padahal, kekuatan mereka justru ada pada hal-hal kecil.

Ada anak yang menulis tentang biopori di sekolah. Ia membayangkan ulat dan semut “berpesta” di dalamnya. Imajinasi sederhana ini membuat tulisannya terasa hangat dan khas anak-anak.

Ada juga yang menulis tentang membawa bekal saat perjalanan, supaya tidak menambah sampah plastik. Ada yang menulis tentang memberi sisa tulang ayam kepada kucing di rumahnya. Hal-hal kecil seperti ini mungkin tampak sepele, tetapi justru membuat tulisan menjadi dekat dan jujur.

Menariknya, ketika anak-anak mulai menulis dari pengalaman sendiri, mereka menjadi lebih percaya diri. Mereka tidak lagi bertanya, “Ini boleh ditulis atau tidak?” karena mereka tahu: ini milik mereka.

Sebaliknya, ketika mereka diminta menulis gagasan makro, tulisan sering terasa jauh dan kaku. Seperti meniru buku pelajaran.

Dari proses ini saya semakin yakin, bahwa dalam belajar menulis, anak-anak tidak kekurangan ide. Mereka hanya perlu diarahkan untuk mendekat ke diri mereka sendiri. Bukan menjauh ke hal-hal yang terlalu besar.

Dari lima anak ini, saya melihat satu pola yang sama: ketika mereka mulai dari pengalaman, gagasan akan mengikuti.
Ketika mereka mulai dari gagasan besar, tulisan justru berhenti.

Maka, mungkin yang perlu kita latih bukan hanya “cara menulis”, tetapi cara melihat pengalaman sebagai sesuatu yang layak ditulis.

Karena dari situlah tulisan tumbuh. Dan dari situlah, suara anak benar-benar terdengar.

Catatan dari Lomba Mendongeng FLS3N

Catatan dari Lomba Mendongeng FLS3N