“Aku Senang Belajar”

Banyak orang merayakan Hari Kartini dengan berkebaya. Itu tidak salah. Raden Ajeng Kartini lahir di Jawa Tengah, tempat perempuan mengenakan kebaya dalam keseharian mereka. Namun, apakah peringatan Kartini cukup berhenti pada pakaian?
Kita bisa mengenal Kartini lebih dalam dari hal sederhana: apa yang ia sukai. Kartini senang belajar. Ia membaca, menulis, dan berpikir. Dari kebiasaan itulah lahir gagasan-gagasan yang terus hidup hingga hari ini.
Pada Hari Kartini lalu, saya dan Kelas Menulis Tetum membuat kegiatan “Aku seperti Kartini”. Anak-anak diajak menulis tentang hal yang mereka sukai, terutama dalam belajar. Ada yang menulis tentang menghafal Al-Qur’an, ada juga yang menulis tentang meraih cita-cita.
Dari tulisan mereka terlihat bahwa kesenangan belajar hadir dalam berbagai bentuk. Namun, kesenangan itu sering kali perlu pemantik. Anak perlu dibukakan pada sesuatu yang dekat dengan hidupnya, yang membuatnya ingin mencoba.
Pemantik itu bisa sederhana: pengalaman kecil, ajakan, atau contoh. Ketika anak berkata, “Aku juga ingin mencoba,” di situlah proses belajar mulai tumbuh dari dalam dirinya.
Kartini pun demikian. Ia menemukan pemantik dari buku dan perjumpaan dengan gagasan. Dari sana, tumbuh kesenangan belajar yang ia rawat.
Anak-anak hari ini juga memulai dari hal yang sama. Mereka membutuhkan ruang untuk mencoba dan menemukan apa yang mereka sukai. Tugas kita adalah menghadirkan pemantik itu, lalu memberi
Mereka seperti Kartini
Berikut beberapa tulisan anak yang menunjukkan bagaimana semangat belajar tumbuh dari hal sederhana.


Perjalanan Menghafal Al=Qur'an
Oleh Haniya Naddakhatani
Saat kelas dua, aku melihat kakak kelasku menamatkan juz 30 di suatu acara. Aku sangat kagum pada pencapaian dan usahanya. Ia baru kelas tiga, tetapi sudah bisa menghafal juz 30. Aku melihatnya membaca Al-Qur’an dengan tenang dan lancar.
Setelah acara selesai, aku menghampiri Bunda dan menyampaikan keinginanku.
“Bunda, aku mau menghafal Al-Qur’an seperti Kak Nava,” ucapku penuh semangat.
Bunda langsung menyemangatiku. “Tentu saja boleh.”
Sejak hari itu, aku bersama abangku mulai menghafal Al-Qur’an. Hingga suatu hari, aku berdiri di depan guru-guru penguji yang siap mendengarkan bacaanku. Dengan gugup, aku mulai melantunkan hafalan. Walau belum lancar, aku berhasil menyelesaikannya.
Setelah menamatkan juz 30, targetku berikutnya adalah juz 1. Aku mulai menghafal dengan penuh semangat di awal kelas 3. Namun, saat akhir kelas 4, semangatku mulai menghilang. Hafalan yang sudah kuhafal perlahan-lahan lupa. Aku merasa tidak bersemangat lagi.
Aku hanya melihat teman-temanku melesat seperti peluru. Mereka terus maju dengan cepat. Kakak kelasku yang dulu sangat kuidolakan bahkan sudah hampir menamatkan lima juz. Sampai kelas lima, nilaiku menurun dan semangatku hilang. Bunda terus menyemangatiku, tetapi aku hanya mengangguk.
Di awal kelas enam, semangatku kembali. Namun sayang, hafalanku sudah lama tidak dijaga. Di kelas enam, guru tahsin juga memiliki target baru, yaitu melancarkan bacaan Al-Qur’an. Walau begitu, aku tetap ingin mencapai targetku.
Aku mulai menghafal kembali dengan serius. Setiap hari aku mencoba, tetapi hafalanku terasa sulit kembali. Kadang aku menangis. Aku hampir ingin menyerah. Abiku berkata bahwa menghafal akan lebih mudah jika aku lancar membaca Al-Qur’an.
Setelah ujian tengah semester dengan hasil yang cukup baik, aku diminta untuk tasmi’, seperti lima tahun lalu saat aku membacakan juz 30. Aku merasa gugup karena hafalanku belum kuat, tetapi aku bertekad untuk mencobanya.
Di awal Desember, jadwal tasmi’-ku semakin dekat. Aku mulai mengurangi waktu bermain untuk menghafal. Aku juga meminta sahabatku untuk mendengarkan bacaanku. Aku senang karena ia bersedia membantu. Di rumah, Abi juga sering mendengarkan hafalanku. Bahkan saat waktu senggang, temanku ikut membantu.
Pada hari pelaksanaan, aku menunggu giliran sambil terus menghafal. Tiba-tiba, salah satu guruku datang dan menawarkan bantuan untuk mendengarkan bacaanku. Aku merasa senang dan terbantu.
Akhirnya, tiba giliranku. Aku maju dengan perasaan gugup. Rasanya sama seperti lima tahun lalu: ditatap guru penguji, didengar orang tua, dan diperhatikan teman-teman. Aku berusaha menguatkan diri.
Satu jam kemudian, aku berhasil menyelesaikan tasmi’ dengan lancar.
Aku sangat bahagia. Saat sesi tanya jawab, abangku yang sedang bersekolah di pesantren ternyata bisa hadir. Aku mengakhiri hari itu dengan penuh suka cita.
Aku bersyukur kepada diriku sendiri karena sudah berusaha dan bersabar.

Belajar Bertahap
Oleh Rakandaru Dhanasworo
Aku ingin belajar sejarah bangsa Rusia, Jerman, Italia, Amerika, Kanada, dan Brunei. Aku juga sudah pernah belajar tentang sejarah BPUPKI dan sejarah bangsa Indonesia.
Aku ingin pergi ke museum di luar negeri untuk mempelajari sejarah negara lain. Aku ingin melihat langsung benda-benda bersejarah dari berbagai bangsa.
Selain itu, aku juga punya mimpi menjadi pembalap Indonesia yang ikut balapan Formula 1. Aku ingin balapan sampai ke Jepang. Aku juga ingin bekerja seperti B.J. Habibie yang membuat pesawat.
Dari banyak hal yang ingin kupelajari, sekarang aku mulai dari yang bisa kulakukan. Aku belajar dengan sungguh-sungguh, mendengarkan berita, dan membaca buku.
Pergi ke museum luar negeri memang masih jauh karena aku masih kecil. Untuk sekarang, aku pergi ke museum yang dekat. Aku pernah mengunjungi Museum Wayang di Jakarta. Aku juga pernah ke Museum Borobudur di Magelang.
Aku akan terus belajar sedikit demi sedikit, sampai suatu hari nanti aku bisa menjelajah dunia.