Ketika Lima Anak Menulis untuk Bumi
Saya membimbing lima anak untuk mengikuti lomba menulis surat untuk Bumi. Mereka dipilih agar memiliki pengalaman menulis lebih panjang.
Kami bertemu beberapa kali dalam kegiatan yang disebut “kamp”. Dari pertemuan-pertemuan itu, saya mengamati bagaimana anak-anak menulis.
Hal pertama yang saya temukan adalah: anak-anak perlu dilatih untuk mengembangkan gagasan. Banyak dari mereka sudah punya ide. Bahkan idenya bagus. Tentang banjir, sampah, hutan, dan bumi yang rusak. Namun, ide itu sering berhenti di satu kalimat.
“Aku tidak suka banjir.”
“Kita harus menjaga lingkungan.”
Kalimat-kalimat ini benar, tetapi belum berkembang. Saat ditanya lebih jauh, barulah cerita muncul. Ada anak yang kemudian bercerita tentang rumahnya yang pernah kebanjiran. Ia ingat bagaimana ia dibangunkan saat masih mengantuk, naik ke lantai atas, lalu keesokan harinya harus membersihkan rumah yang kotor dan berbau. Dari satu kalimat sederhana, lahir satu pengalaman yang utuh.
Ada juga anak yang awalnya hanya menulis, “Aku membuang sampah pada tempatnya.” Ketika ditanya, ia mulai bercerita tentang dua tempat sampah di rumahnya. Ia menjelaskan mana yang organik dan mana yang nonorganik, bahkan sampai pada kebiasaan ibunya membuang cangkang telur. Tiba-tiba tulisannya menjadi hidup, karena ada detail yang nyata.
Di sinilah peran pendamping menjadi penting. Anak-anak membutuhkan pancingan. Pertanyaan kecil yang membuka pintu.
“Kenapa kamu tidak suka banjir?”
“Pernah mengalami?”
“Apa yang kamu rasakan?”
“Di rumahmu seperti apa?”
Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, tulisan mulai bergerak. Dari satu kalimat, menjadi satu paragraf. Dari gagasan umum, menjadi pengalaman yang bisa dilihat dan dirasakan.
Hal kedua yang saya temukan adalah: anak-anak sebenarnya haus menulis secara autentik. Namun, mereka sering merasa bahwa menulis harus “besar”. Harus berbicara tentang dunia, dan solusi yang luas. Padahal, kekuatan mereka justru ada pada hal-hal kecil.
Ada anak yang menulis tentang biopori di sekolah. Ia membayangkan ulat dan semut “berpesta” di dalamnya. Imajinasi sederhana ini membuat tulisannya terasa hangat dan khas anak-anak.
Ada juga yang menulis tentang membawa bekal saat perjalanan, supaya tidak menambah sampah plastik. Ada yang menulis tentang memberi sisa tulang ayam kepada kucing di rumahnya. Hal-hal kecil seperti ini mungkin tampak sepele, tetapi justru membuat tulisan menjadi dekat dan jujur.
Menariknya, ketika anak-anak mulai menulis dari pengalaman sendiri, mereka menjadi lebih percaya diri. Mereka tidak lagi bertanya, “Ini boleh ditulis atau tidak?” karena mereka tahu: ini milik mereka.
Sebaliknya, ketika mereka diminta menulis gagasan makro, tulisan sering terasa jauh dan kaku. Seperti meniru buku pelajaran.
Dari proses ini saya semakin yakin, bahwa dalam belajar menulis, anak-anak tidak kekurangan ide. Mereka hanya perlu diarahkan untuk mendekat ke diri mereka sendiri. Bukan menjauh ke hal-hal yang terlalu besar.
Dari lima anak ini, saya melihat satu pola yang sama: ketika mereka mulai dari pengalaman, gagasan akan mengikuti.
Ketika mereka mulai dari gagasan besar, tulisan justru berhenti.
Maka, mungkin yang perlu kita latih bukan hanya “cara menulis”, tetapi cara melihat pengalaman sebagai sesuatu yang layak ditulis.
Karena dari situlah tulisan tumbuh. Dan dari situlah, suara anak benar-benar terdengar.