Beberapa hari lalu saya menerima laporan dari guru tentang sebuah kejadian di sekolah.

Dua anak berselisih kecil. Salah satu anak merasa terganggu, sudah mengingatkan, tetapi tidak direspons. Ia kemudian bereaksi dengan cara yang kurang tepat. Guru mengajak keduanya duduk bersama, berbicara, saling mendengarkan, dan akhirnya saling meminta maaf.

Selesai.

Setidaknya, bagi anak-anak, masalah itu selesai di hari yang sama.

Namun, cerita tidak berhenti di situ.

Keesokan harinya, perselisihan antara orang tua kedua anak tersebut.

Di titik ini, saya berhenti sejenak.

Ada sesuatu yang perlu kita renungkan bersama sebagai orang tua.

Sering kali kita lupa bahwa dunia anak dan dunia orang tua tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama.

Anak-anak memiliki kemampuan yang luar biasa untuk kembali “baik-baik saja”. Mereka bisa bertengkar di pagi hari, lalu bermain bersama di siang hari. Bagi mereka, emosi itu datang dan pergi. Tidak selalu disimpan.

Sementara kita, orang dewasa, justru sering menyimpan.

Kita mengingat.
Kita menafsirkan.
Kita mengaitkan dengan kejadian-kejadian sebelumnya.
Kita membangun cerita di kepala kita sendiri.

Tanpa sadar, kita membawa beban yang sebenarnya sudah tidak lagi dipikul oleh anak kita.

Di sinilah letak tantangannya menjadi orang tua.

Kita bukan hanya mendampingi anak belajar mengelola emosi, tetapi juga belajar mengelola emosi kita sendiri.

Kadang, kita perlu bertanya:
Apakah ini benar masalah anak, atau sudah menjadi masalah kita?

Kadang, kita perlu menahan diri:
Apakah perlu diucapkan sekarang, atau cukup disimpan dan direnungkan?

Kadang, kita perlu belajar dari anak:
Bagaimana caranya melepaskan.

Menjadi orang tua bukan hanya tentang membela anak.

Menjadi orang tua adalah tentang menjaga agar emosi kita tidak memperbesar masalah yang sebenarnya kecil.

Anak-anak kita sedang belajar hidup.

Dan diam-diam, kita pun sebenarnya sedang belajar menjadi orang tua.

Tulisan ini saya buat sebagai langkah kecil untuk kembali menulis. Sudah lama blog ini sunyi. Mungkin seperti banyak orang tua lainnya, saya sibuk mendampingi anak bertumbuh, hingga lupa memberi ruang untuk merefleksikan perjalanan itu sendiri.

Hari ini saya mulai lagi.

Pelan-pelan.