“Membaca” Amir Sjarifoeddin
May 10, 2026 | Catatan dari Buku dan Kelas | 0 comments
“Membaca” Amir Sjarifoeddin

Saya tidak mengenal Amir Sjarifoeddin.
Namanya tidak pernah benar-benar muncul dalam ingatan saya tentang pelajaran sejarah sekolah. Ia tidak hadir seperti Soekarno, Hatta, atau Sjahrir yang lebih sering disebut dalam buku dan upacara. Amir seperti tokoh yang berjalan di pinggir sejarah: penting, tetapi samar.
Namun, entah kenapa saya tertarik mengenalnya ketika penyelenggara Walking Tour Walk Indies mengajak peserta napak tilas ke tempat-tempat yang berhubungan dengan kehidupan Sang Perdana Menteri kedua Republik Indonesia itu.
“Membaca” di sini bukan sekadar membaca buku. Membaca berarti mencoba memahami.
Rombongan walking tour memulai perjalanan dari Kramat Raya 106, rumah kos yang pernah ditempati Amir semasa kuliah. Dari sana saya mulai mengenal Amir sebagai manusia muda: mahasiswa hukum yang naik sepeda ke kampus Rechts Hogeschool di Salemba, bermain biola hingga mengganggu teman-temannya, dan hidup di tengah atmosfer kos pemuda yang penuh semangat.
Saya membayangkan rumah kos itu ramai dan hangat. Pemuda-pemuda keren pada zamannya berkumpul, belajar, bercanda, berdiskusi, lalu tiba-tiba pembicaraan mereka berubah menjadi obrolan serius tentang Indonesia.
Di rombongan walking tour itu ada seseorang yang diam-diam saya juluki “Amirmania”. Ia membaca banyak buku tentang Amir, bahkan pernah napak tilas ke tempat Amir dieksekusi di Karanganyar. Sepanjang perjalanan, ia bercerita tentang sisi-sisi kontroversial Amir yang tidak terlalu dibahas oleh pemandu.
Dari rumah kos itu kami berjalan menuju gereja HKBP tua, tempat Amir pernah berceramah dan menikah. Gereja itu adalah gereja Batak. Biasanya khotbah disampaikan dalam bahasa Batak. Namun, ketika Amir berbicara, ia menggunakan bahasa Indonesia. Saya membatin: rupanya semangat membangun Indonesia dari rumah kos Kramat Raya begitu kuat membekas dalam dirinya.
Dari teman seperjalanan itu pula saya mengetahui bahwa Amir berasal dari keluarga Islam, tetapi kemudian berpindah menjadi Kristen ketika bersekolah di Belanda. Ia dekat dengan sepupunya yang beragama Kristen, Gunung Mulia. Keluarga Belanda tempat ia tinggal pun beragama Kristen.
Kami lalu mengunjungi toko buku Gunung Mulia. Saya mengenal toko itu sejak kecil sebagai toko buku Kristen yang cukup besar di dekat Gunung Agung. Saya tidak pernah menyangka toko buku yang akrab dalam ingatan masa kecil saya ternyata terhubung dengan tokoh sejarah Indonesia.
Semakin mendengar kisahnya, saya semakin melihat Amir sebagai sosok yang cerdas dan mudah bergaul. Ia menguasai banyak bahasa, aktif berdiskusi, dan terhubung dengan banyak tokoh nasional.
Usai lulus kuliah, ia memimpin surat kabar. Sebagai mantan jurnalis, saya merasa bangga mengetahui begitu banyak wartawan yang ikut membangun Indonesia pada masa awal republik. Dunia pers rupanya bukan sekadar tempat menulis berita, tetapi juga ruang lahirnya gagasan dan keberanian.
Dari Kwitang kami naik TransJakarta menuju gedung tua yang kini menjadi kantor Bapeten (Badan Pengawas Tenaga Nuklir) di Harmoni. Dahulu, gedung itu pernah menjadi kantor Amir ketika menjabat Menteri Penerangan.
Di masa awal Republik, Amir bahkan memegang dua jabatan sekaligus: Menteri Penerangan dan Menteri Pertahanan. Ia termasuk kelompok kecil tokoh yang sering berdiskusi langsung dengan Soekarno dan Hatta. Pada masa revolusi, Soekarno membutuhkan orang-orang yang kuat secara intelektual dan organisatoris, dan Amir tampaknya memenuhi kebutuhan itu. Kedekatannya dengan elite politik mengantarkannya menjadi Perdana Menteri.
Namun, sejarah tidak berjalan lurus.
Setelah Perundingan Renville yang dianggap merugikan Republik Indonesia, Amir kehilangan banyak dukungan politik. Hubungannya dengan Soekarno merenggang, terlebih setelah ia bergabung dengan Front Demokrasi Rakyat dan mendukung gagasan Musso tentang Republik Indonesia Soviet.
Pemberontakan Madiun 1948 menjadi titik pecah yang besar. Soekarno tampil tegas menentang gerakan itu. Dalam pidato terkenalnya, ia meminta rakyat memilih antara “Soekarno-Hatta atau Musso-Amir.” Dari sana posisi Amir berubah. Ia bukan lagi orang dekat kekuasaan, melainkan dianggap ancaman bagi republik yang baru berdiri.
Sepulang dari walking tour itu saya termangu. Saya membayangkan perjalanan hidup seorang anak bangsa yang begitu cemerlang, tetapi kemudian berbelok ketika ia merasa gagal, tersingkir, dan kehilangan tempat dalam lingkar kekuasaan.
Bukankah hal seperti itu kerap terjadi dalam hidup manusia?

Sesampainya di rumah, saya membuka aplikasi lokapasar. Saya membeli buku yang dibaca “Amirmania”: Amir Sjarifuddin karya Rudolf Mrázek. Saya melanjutkan “napak tilas” saya lewat membaca.
Buku itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan sangat baik. Mrázek, sejarawan asal Cekoslowakia yang mengajar di Universitas Michigan, menulis Amir bukan sebagai tokoh hitam-putih, melainkan sebagai manusia yang penuh lapisan. Ia menulis masa kecil Amir di Sumatra, kehidupannya di Belanda, masa-masa di Kramat Raya bersama para pemuda pergerakan, keberaniannya berdebat dengan Belanda, kiprahnya sebagai wartawan dan politisi, hingga jatuh bangunnya dalam pusaran revolusi Indonesia.
Bagian yang paling terasa bagi saya adalah bagaimana Mrázek menunjukkan ambiguitas Amir: antara idealisme, keberanian, kecerdasan, dan tragedi.
Usai menutup buku itu, saya menghela napas panjang. Sungguh, hidup itu kompleks.

