Saat Emosi Kita Tertinggal di Belakang Anak
May 1, 2026 | Catatan dari Buku dan Kelas | 0 comments
Saat Emosi Kita Tertinggal di Belakang Anak

Saya baru saja membeli buku bekas karya ayah saya di suatu lokapasar. Ketika kecil, saya pernah membacanya. Sekarang, saya sedang merindukan Bapak, jadi saya mencarinya kembali..
Saya hanya menemukan satu karyanya, kumpulan cerita berjudul Dongeng-Dongeng Sebelum Tidur. Saya tertarik pada cerita pertama, Menggurui Orang Tua, karena terasa dekat dengan pengalaman saya di sekolah.
Beberapa hari lalu, saya menerima laporan dari guru tentang sebuah kejadian. Dua anak berselisih kecil. Salah satu anak merasa terganggu, sudah mengingatkan, tetapi tidak direspons. Ia kemudian bereaksi dengan cara yang kurang tepat. Guru mengajak keduanya duduk bersama, berbicara, saling mendengarkan, dan akhirnya saling meminta maaf. Selesai.
Namun, cerita tidak berhenti di situ.
Keesokan harinya, terjadi perselisihan antara orang tua kedua anak tersebut.
Di titik ini, saya berhenti sejenak. Ada sesuatu yang terasa sama dengan cerita yang ditulis Bapak.
Ada yang perlu kita renungkan bersama sebagai orang tua. Sering kali kita lupa bahwa dunia anak dan dunia orang tua tidak selalu berjalan dengan kecepatan yang sama. Anak-anak memiliki kemampuan yang luar biasa untuk kembali “baik-baik saja”. Mereka bisa bertengkar di pagi hari, lalu bermain bersama di siang hari. Bagi mereka, emosi datang dan pergi. Tidak selalu disimpan.
Sementara kita, orang dewasa, justru sering menyimpan. Kita mengingat. Kita menafsirkan. Kita mengaitkan dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Kita membangun cerita di kepala kita sendiri. Tanpa sadar, kita membawa beban yang sebenarnya sudah tidak lagi dipikul oleh anak kita.
Di sinilah letak tantangan menjadi orang tua. Kita bukan hanya mendampingi anak belajar mengelola emosi, tetapi juga belajar mengelola emosi kita sendiri.
Kadang, kita perlu bertanya: Apakah ini benar masalah anak, atau sudah menjadi masalah kita?
Kadang, kita perlu menahan diri: Apakah perlu diucapkan sekarang, atau cukup disimpan dan direnungkan?
Kadang, kita perlu belajar dari anak: Bagaimana caranya melepaskan.
Anak-anak kita sedang belajar hidup. Dan diam-diam, kita pun sebenarnya sedang belajar menjadi orang tua.
Membaca kembali tulisan Bapak, saya merasa persoalan ini bukan hal baru. Sepertinya ini adalah persoalan yang selalu berulang, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orang tua boleh berubah, apakah Boomer, Milenial, atau generasi setelahnya,
tetapi satu hal tetap sama: kita mudah membawa emosi saat menghadapi masalah anak.
Lalu, apakah kita sungguh belajar dari masa lalu?
