Anak Belajar Menulis dengan Cara yang Unik

Banyak orang bertanya kepada saya, “Bagaimana cara mengajarkan anak menulis cerita?”
Jawaban saya selalu sama: tergantung anaknya.
Ada anak yang terbantu ketika sejak awal diberi kerangka. Kepada anak seperti ini, saya menjelaskan bahwa sebuah cerita biasanya berisi tokoh yang memiliki keinginan. Namun, keinginan itu tidak mudah tercapai karena ada hambatan. Dari situlah cerita bergerak. Tokoh akan berusaha mengatasi hambatan tersebut hingga akhirnya berhasil atau justru gagal.
Saya juga mengenalkan salah satu pola yang sering digunakan dalam cerita, yaitu the rule of three. Tokoh tidak langsung berhasil pada usaha pertama. Ia biasanya mencoba beberapa kali. Usaha pertama belum berhasil. Usaha kedua juga belum berhasil. Baru pada usaha ketiga terjadi perubahan yang membawa cerita menuju penyelesaian. Pola ini membuat cerita terasa lebih hidup dan memberi ruang bagi perkembangan tokoh.
Namun, tidak semua anak cocok belajar dengan cara seperti itu.
Saya pernah mendampingi seorang anak yang setiap kali datang selalu membawa premis baru. Pertemuan sebelumnya kami membahas cerita tentang seekor kucing, minggu berikutnya berganti menjadi pesawat luar angkasa. Minggu berikutnya berubah lagi menjadi kisah detektif. Ia tidak pernah melanjutkan atau memperbaiki premis yang sudah kami diskusikan.
Awalnya saya terus mengajaknya kembali ke rancangan cerita yang lama. Semakin saya mengarahkan, semakin ia ingin memulai cerita baru.
Sampai akhirnya saya berpikir, mungkin masalahnya bukan pada anak itu. Mungkin pendekatan sayalah yang perlu diubah.
Saya pun berhenti membahas teori di awal. Saya memintanya menulis saja sampai selesai. Tidak perlu terlalu memikirkan struktur, konflik, ataupun jumlah usaha tokohnya. Yang penting, ceritanya selesai terlebih dahulu.
Setelah naskah itu selesai, barulah kami membacanya bersama. Dari cerita yang sudah utuh itu, kami mulai berdiskusi. Di bagian mana tokohnya sebenarnya menginginkan sesuatu? Mengapa konflik ini terasa terlalu cepat selesai? Bagaimana jika tokohnya mencoba satu atau dua cara lagi sebelum menemukan jalan keluar?
Anehnya, pembahasan seperti ini justru lebih mudah dipahami olehnya. Ia tidak sedang membayangkan teori yang abstrak, melainkan sedang melihat ceritanya sendiri.
Pengalaman itu mengingatkan saya bahwa mengajar menulis bukan sekadar menguasai berbagai metode. Yang lebih penting adalah mengenali siapa anak yang sedang kita dampingi.
Ada anak yang membutuhkan peta sebelum berjalan. Ada pula yang baru memahami peta setelah ia selesai menempuh perjalanan.
Tugas guru bukan memilih satu metode yang dianggap paling benar. Tugas guru adalah menemukan jalan yang paling sesuai agar setiap anak dapat terus menulis dan berkembang.