Batu Dakon: Jejak Tarumanagara
Main congklak, yuk!
Permainan tradisional ini menggunakan papan berlubang dan biji-bijian kecil. Pemain memindahkan biji dari satu lubang ke lubang lain hingga permainan selesai. Congklak disebut juga dakon. Hingga sekarang, dakon masih dimainkan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Bogor.
Namun, di Bogor ada dakon yang berbeda.
Dakon itu terbuat dari batu dan ukurannya jauh lebih besar. Karena sudah sangat tua, masyarakat menyebutnya Batu Dakon.
Sekilas, Batu Dakon memang mirip papan dakon atau congklak. Di permukaannya terdapat beberapa lubang yang menyerupai lubang pada permainan dakon. Akan tetapi, Batu Dakon bukan digunakan untuk bermain.
Lalu, untuk apa Batu Dakon digunakan?
Para ahli memperkirakan Batu Dakon berasal dari masa Tarumanagara. Salah satu alasannya karena letaknya dekat dengan peninggalan Tarumanagara lainnya di Bogor.
Ternyata Batu Dakon tidak hanya ditemukan di satu tempat. Di Bogor terdapat beberapa situs Batu Dakon. Dua di antaranya berada di Empang dan Ciaruteun.
Batu Dakon diduga digunakan sebagai penanda waktu. Dengan mengamati posisi bayangan matahari, masyarakat pada masa lalu dapat mengetahui pergantian musim penghujan, musim kemarau, dan waktu yang tepat untuk bercocok tanam.
Ketika matahari bergerak di langit, bayangan batu akan berpindah. Perubahan posisi bayangan itu membantu masyarakat memahami waktu dan musim tanpa jam atau kalender seperti yang kita miliki sekarang.
Batu Dakon menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu memiliki pengetahuan yang cermat tentang alam. Mereka mengamati matahari, musim, dan lingkungan sekitar untuk membantu kehidupan sehari-hari.
Kalau kamu hidup pada masa Tarumanagara, bagaimana ya caramu mengetahui pergantian musim?