Jajan Pasar Yogyakarta

Jajan Pasar Yogyakarta

Jajan Pasar Yogyakarta

     Kalau berlibur ke Yogyakarta, makanan apa yang ingin kamu coba? Es krim yang sedang viral di Prawirotaman? Wah, memang enak disantap saat cuaca Yogyakarta sedang terik.

     Namun, karena kamu sudah duduk di bangku SD dan mulai suka belajar hal-hal baru, bagaimana kalau sesekali menjadi warlok, alias warga lokal?

     Sayang, lo, kalau sudah jauh-jauh ke Yogyakarta, tetapi tidak mencoba merasakan bagaimana kehidupan masyarakatnya. Salah satu caranya adalah mencicipi jajan pasar.

     Di kotamu mungkin juga ada jajan pasar. Bisa jadi ada yang sama, bisa juga berbeda. Nah, kalau kamu sedang berada di Prawirotaman, cobalah berjalan kaki beberapa menit dari deretan kafe dan restoran menuju Pasar Prawirotaman. Kalau tidak ingin berjalan, naik becak juga seru!

     Pasarnya cukup modern. Bahkan, ada eskalator. Namun, di balik bangunan modern itu, kamu masih bisa menemukan berbagai kudapan tradisional. Ada serabi, carabikang, klepon, gethuk, wajik, jenang, apem, dan ampyang.

     “Lho, kok tidak ada es krim?”

     Memang tidak ada. Tetapi ada makanan yang lembut dan manis, yaitu jenang. Kamu bisa menemukan jenang gempol, jenang mutiara, dan jenang sumsum. Biasanya jenang dimakan hangat atau pada suhu ruang. Kalau ingin sensasi dingin, simpan saja sebentar di kulkas hotel tempatmu menginap.

     Mengapa jajan pasar menarik untuk dicoba? Karena jajan pasar bukan sekadar makanan. Kudapan ini merupakan bagian dari budaya Yogyakarta. Jejaknya bahkan sudah tercatat dalam Serat Centhini, sebuah karya sastra Jawa yang digubah pada awal abad ke-19 atas kehendak Sunan Pakubuwana V. Serat yang terdiri atas dua belas jilid ini sering disebut sebagai ensiklopedia kebudayaan Jawa karena menceritakan kehidupan masyarakat secara sangat rinci, termasuk tradisi makan mereka.

     Dalam jilid kedua, diceritakan perjalanan Cebolang, putra seorang kiai, menuju Mataram bersama para santrinya. Mereka singgah di rumah Amat Tengara, juru azan Masjid Agung Yogyakarta. Tuan rumah kebingungan karena tidak memiliki cukup hidangan untuk menjamu tamunya. Melihat hal itu, Cebolang menggunakan kesaktiannya untuk menghadirkan berbagai makanan, mulai dari hidangan utama hingga kudapan. Di antara kudapan yang disebutkan terdapat jenang dodol, jenang nangka, jenang durian, dan jenang cubit.

     Bayangkan. Lebih dari dua ratus tahun yang lalu, masyarakat Jawa sudah mengenal beragam jenang dan kudapan seperti yang masih kita jumpai di pasar hingga sekarang. Jadi, jajan pasar bukan sekadar pengganjal perut. Ia adalah penghubung antara masa lalu dan masa kini.

     Kalau suatu hari kamu berkunjung ke kota lain, sesekali tinggalkan makanan favoritmu. Cobalah makanan yang biasa disantap masyarakat setempat. Dari situ, kamu tidak hanya mengenal rasa baru, tetapi juga mengenal sejarah, budaya, dan kehidupan mereka.

Batu Dakon: Jejak Tarumanagara

Batu Dakon: Jejak Tarumanagara

Batu Dakon: Jejak Tarumanagara

Main congklak, yuk!

Permainan tradisional ini menggunakan papan berlubang dan biji-bijian kecil. Pemain memindahkan biji dari satu lubang ke lubang lain hingga permainan selesai. Congklak disebut juga dakon. Hingga sekarang, dakon masih dimainkan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Bogor.

Namun, di Bogor ada dakon yang berbeda.

Dakon itu terbuat dari batu dan ukurannya jauh lebih besar. Karena sudah sangat tua, masyarakat menyebutnya Batu Dakon.

Sekilas, Batu Dakon memang mirip papan dakon atau congklak. Di permukaannya terdapat beberapa lubang yang menyerupai lubang pada permainan dakon. Akan tetapi, Batu Dakon bukan digunakan untuk bermain.

Lalu, untuk apa Batu Dakon digunakan?

Para ahli memperkirakan Batu Dakon berasal dari masa Tarumanagara. Salah satu alasannya karena letaknya dekat dengan peninggalan Tarumanagara lainnya di Bogor.

Ternyata Batu Dakon tidak hanya ditemukan di satu tempat. Di Bogor terdapat beberapa situs Batu Dakon. Dua di antaranya berada di Empang dan Ciaruteun.

Batu Dakon diduga digunakan sebagai penanda waktu. Dengan mengamati posisi bayangan matahari, masyarakat pada masa lalu dapat mengetahui pergantian musim penghujan, musim kemarau, dan waktu yang tepat untuk bercocok tanam.

Ketika matahari bergerak di langit, bayangan batu akan berpindah. Perubahan posisi bayangan itu membantu masyarakat memahami waktu dan musim tanpa jam atau kalender seperti yang kita miliki sekarang.

Batu Dakon menunjukkan bahwa masyarakat masa lalu memiliki pengetahuan yang cermat tentang alam. Mereka mengamati matahari, musim, dan lingkungan sekitar untuk membantu kehidupan sehari-hari.

Kalau kamu hidup pada masa Tarumanagara, bagaimana ya caramu mengetahui pergantian musim?

Jejak Si Pitung di Marunda

Jejak Si Pitung di Marunda

Jejak Si Pitung di Marunda

Jejak Awal Putra Sang Fajar

Jejak Awal Putra Sang Fajar

Jejak Awal Putra Sang Fajar

Bogor 544 Tahun: Dari Kerajaan Kuno ke Kota

Bogor 544 Tahun: Dari Kerajaan Kuno ke Kota

Bogor 544 Tahun: Dari Kerajaan Kuno ke Kota

Adityawarman: Dari Majapahit ke Minang

Adityawarman: Dari Majapahit ke Minang

Adityawarman: Dari Majapahit ke Minang