Atau mungkin kamu ingin membantu keluarga saat sakit. Kamu ingin belajar cara mengobati orang lain. Kalau begitu, yuk mencoba mendaftar di STOVIA.
STOVIA adalah sekolah kedokteran pada masa lalu. Nama panjangnya School tot Opleiding van Inlandsche Artsen. Sekolah itu berada di gedung kuno di Jalan H. Abdurrahman Saleh, Jakarta Pusat. Sekarang tempat itu jadi Museum Kebangkitan Nasional.
Namun, masuk ke STOVIA tidak mudah. Pertama, kamu harus mendaftar lebih dahulu. Lalu, kamu akan bertemu direktur sekolah. Namanya Hermanus Frederik Roll. Pak Hermanus akan bertanya tentang keluargamu. Pada masa itu, STOVIA lebih banyak menerima anak pejabat dan bangsawan.

Setelah itu, kesehatanmu diperiksa. Mahasiswa STOVIA harus kuat belajar dan bekerja keras. Ada murid bernama Soewardi Soerjaningrat (kelak disebut Ki Hajar Dewantara) yang berhenti kuliah karena sakit.
Pak Hermanus juga ingin tahu apakah kamu anak yang baik. Murid STOVIA harus disiplin dan menaati aturan sekolah. Ada mahasiswa yang pernah terancam dikeluarkan karena mendirikan organisasi yang tidak disukai pemerintah Belanda.
Namun, ada kabar menyenangkan. Kalau diterima di STOVIA, kamu bisa belajar tanpa membayar uang sekolah.
Semua biaya pendidikan ditanggung pemerintah saat itu.

Setelah resmi menjadi mahasiswa, kamu akan belajar di banyak ruangan. Ada ruang kuliah dengan bangku dan papan tulis besar.
Di sana, para guru menjelaskan tentang tubuh manusia dan penyakit.
Ada juga ruang praktik. Di ruangan itu, mahasiswa belajar anatomi tubuh manusia. Mereka harus berlatih menggunakan mayat untuk mempelajari bagian tubuh. Berani, tidak?
Mahasiswa STOVIA juga tinggal di asrama. Mereka tidur, belajar, dan makan bersama teman-teman dari berbagai daerah. Artinya, kamu harus siap tinggal jauh dari orang tua.
Hari-harimu akan sibuk. Belajar, praktik, membaca buku, dan menaati aturan sekolah. Namun, semua itu dilakukan agar kamu bisa menjadi dokter yang baik.
Siap menjadi dokter STOVIA?