Jumpa Pak Ti’am di Pantai Ancol
by endahws | May 3, 2026 | Cerita untuk Anak

Akhir pekan itu kami memutuskan pergi ke Pantai Carnaval Ancol. Tempat ini sering disebut sebagai salah satu pantai keluarga di kawasan Taman Impian Jaya Ancol. Tidak perlu rencana yang rumit. Cukup datang, berjalan pelan, lalu membiarkan anak-anak menemukan kegembiraan mereka sendiri.
Pasirnya terasa hangat di kaki. Airnya tidak terlalu dalam, sehingga anak-anak berani mendekat. Sesekali terlihat ikan-ikan kecil berenang cepat, seolah ikut bermain. Di kejauhan, orang-orang duduk santai, sebagian lagi menggelar tikar. Tidak ada tergesa-gesa. Pantai seperti mengajak kita memperlambat langkah.
Saya mulai menyadari bahwa di tempat seperti ini, kegiatan sederhana justru menjadi pengalaman yang utuh. Anak-anak berlari, berhenti, lalu kembali berlari. Mereka tidak butuh banyak instruksi. Mereka hanya butuh ruang.
Di tepi pantai, kami bertemu dengan seorang bapak yang menawarkan perahu. Namanya Pak Taim. Ia berasal dari Indramayu dan sudah lama bekerja di sini. Perahunya sederhana, dengan tulisan “Karimun Jawa” di bagian samping. Catnya mulai pudar, tetapi justru itu yang membuatnya terasa akrab, seperti benda yang punya cerita.
Pak Taim tidak banyak bicara, tetapi gerakannya sigap. Ia membantu satu per satu penumpang naik ke perahu. Ada kehati-hatian dalam caranya memegang tangan anak-anak. Hal kecil seperti ini sering luput dari perhatian, padahal di situlah rasa aman dibangun.
Kami pun naik.
Begitu perahu bergerak, suasana berubah. Angin laut terasa lebih kuat. Rambut anak-anak berantakan, tetapi mereka tertawa. Laut tampak lebih luas dari atas perahu. Birunya tidak sama seperti yang terlihat dari pantai.
Saya mencoba mengajak anak-anak mengamati.
“Lihat ke sana,” kata saya.
Mereka menunjuk berbagai hal. Ada pagar laut yang pernah ramai dibicarakan. Ada orang-orang yang berenang dari arah yang cukup jauh. Ada bangunan yang belum selesai, berdiri seperti menunggu waktu untuk dilanjutkan.
Namun, yang paling menarik sebenarnya bukan apa yang kami lihat, melainkan bagaimana kami melihatnya bersama. Perahu itu menjadi ruang kecil untuk berbagi perhatian. Kami menunjuk, bertanya, dan menebak-nebak. Tidak ada jawaban benar atau salah. Hanya percakapan yang mengalir.
Di tengah perjalanan, saya menyadari sesuatu. Aktivitas ini sederhana. Naik perahu, berkeliling sebentar, lalu kembali. Namun, jika dijalani dengan kesadaran, pengalaman itu menjadi kaya. Kita tidak sekadar bergerak dari satu titik ke titik lain, tetapi benar-benar hadir di dalam perjalanan.
Anak-anak tampak tenang. Tidak ada gawai. Tidak ada distraksi. Hanya angin, air, dan kebersamaan.
Ketika perahu kembali ke pantai, pengalaman itu terasa singkat, tetapi membekas. Anak-anak masih membicarakan apa yang mereka lihat. Mereka mengulang cerita dengan versi mereka sendiri. Ada yang menambahkan detail, ada yang mengubah sedikit bagian. Semua sah, karena itulah cara mereka mengingat.
Perjalanan hari itu mengingatkan saya pada satu hal penting dalam mendampingi anak. Kita tidak selalu perlu menyediakan pengalaman besar. Kita hanya perlu membantu mereka melihat lebih dalam.
Datang saja ke suatu tempat.
Lalu amati bersama.
Kemudian lakukan sesuatu, sekecil apa pun.
Dari situlah cerita lahir.
Jika Anda berkunjung ke Pantai Carnaval, mungkin Anda juga akan menemukan perahu seperti yang kami naiki. Tarifnya terjangkau, dan durasinya tidak lama. Namun, nilai dari pengalaman itu tidak terletak pada lamanya waktu, melainkan pada perhatian yang kita berikan selama menjalaninya.
Sebelum pulang, saya sempat bertanya kepada anak-anak, “Apa yang paling kamu ingat?”
Jawaban mereka sederhana.
“Anginnya.”
“Ikannya.”
“Perahunya goyang.”
Saya tersenyum.
Kadang, hal-hal kecil itulah yang justru tinggal paling lama dalam ingatan anak.
