Apa yang kamu lakukan jika pergi ke pantai? Bermain pasir, berenang, duduk di tikar, atau makan kudapan? Saya pun demikian.
Namun, hari itu saat saya pergi ke Pantai Carnaval Ancol bersama keluarga, saya mengobrol dengan seorang “penghuni” pantai. Penghuni? Kamu akan tahu maksudnya setelah membaca sampai akhir.
Namanya Pak Ti’am. Kami bertemu di ujung Dermaga Cinta Ancol, saat saya sibuk memotret laut, perahu, dan pengunjung. Rambutnya sudah memutih. Ia memakai kaus kuning bertuliskan “Perahu Wisata Ancol”. Pak Ti’am menawari saya sekeluarga naik perahu.
“Enak. Belum panas. Ombak tenang,” katanya. Ia menunjuk perahu yang sedang bersandar di pantai. Saya menengok ke arah perahu. Di dalam perahu, ada seseorang yang sedang membereskan barang. Kata Pak Ti’am, itu adalah adiknya.
Saya mengatakan bahwa sebagian anggota keluarga saya masih bermain di pantai. Jadi, saya belum bisa memastikan apakah mereka mau naik perahu atau tidak.
“Oh, tidak apa-apa. Nanti bisa lebih jauh, karena belum ada yang antre,” katanya lagi, mencoba meyakinkan.
“Oh, baik, Pak. Tunggu setengah jam ya. Mereka masih bermain,” jawab saya.
Pak Ti’am cukup terbuka. Saya pun mengajaknya mengobrol. Ternyata ia sudah bekerja di kawasan Taman Impian Jaya Ancol lebih dari 40 tahun. Dulu, ia datang dari Indramayu untuk bekerja sebagai tukang urug, saat Ancol masih dalam tahap pembangunan.
Kemudian ia mendapat tawaran untuk menyewakan perahu. Ia tertarik karena keluarganya adalah nelayan. Sejak saat itu, ia bekerja sebagai penyewa perahu hingga sekarang.
Pak Ti’am bercerita bahwa ia pulang seminggu sekali ke kampungnya di Indramayu. Sehari-hari, ia tidur di perahu. Perahunya dibuat di kampungnya. Jika rusak, perahu itu dibawa pulang untuk diperbaiki. Perjalanan ke sana bisa memakan waktu dua hari satu malam.
Sekarang, perahu itu sudah dijual kepada adiknya. Namun, Pak Ti’am tetap bekerja membantu menyewakan perahu. Sepertinya, ia bertugas mencari penumpang. Dengan gayanya yang halus, Pak Ti’am memang tepat untuk tugas itu.
Ia sabar dan memahami orang lain. Ketika saya menyatakan keraguan untuk naik perahu, Pak Ti’am meyakinkan saya bahwa ia akan memegangi dari bawah, dan adiknya dari atas.
Akhirnya, hari itu kami menyewa perahunya. Perahunya tanpa mesin, sehingga tidak mengotori laut. Ia mendayung perlahan, bersama adiknya.
Kunjungan ke Ancol hari itu terasa berbeda. Saya tidak hanya menikmati pantai, tetapi juga bertemu seseorang yang hidupnya begitu dekat dengan laut.