Ting Tong! – Onomatope dalam Seri Cerita Anak Darling
by endahws | May 12, 2026 | Kisah Belajar Menulis

Dari pengalaman mengedit karya 18 penulis perempuan yang tergabung dalam komunitas Ibu Sadar Lingkungan, saya menemukan hal menarik: hadirnya onomatope dalam tulisan-tulisan mereka. Onomatope adalah kata yang menirukan bunyi. Kehadirannya membuat cerita terasa lebih hidup dan dekat dengan pembaca.
Misalnya:
Krek … krek … krek …
“Ini cukup, sepertinya,” kata Ibu sambil mengulurkan potongan dahan daun kelor yang baru saja dipetik. Kami kemudian berjalan bersama menuju dapur.
(dari “Dari Pekarangan ke Meja Makan” — Ariyani Maulani, Buku Seri 3)
–
Tok, tok, tok!
“Tante, Ibu minta temu kunci,” kataku begitu Tante Pipit membuka pintu.
(dari “Dari Pekarangan ke Meja Makan” — Ariyani Maulani, Buku Seri 3)
–
Brak! Bruk!
Tumpukan baju jatuh berhamburan menutupi kakinya. Kaus, celana, dan jaket berserakan di lantai.
(dari “Arfan & Baju Kesayangan” — Ajeng Riadwi Yunanto, Buku Seri 2)
–
Ting tong!
Bel rumahku berbunyi.
(dari “Pipa Berlubang Penjaga Bumi” — Putri Ambangsari, Buku Seri 2)
–
Tap … tap … tap ….
Suara langkah Tari dan Ayah saling beradu.
(dari “Perang Melawan Monster Perusak Bumi” — Dian Pramieta, Buku Seri 1)
–
Kluntang … kluntung ….
Plastik-plastik bekas saling beradu.
(dari “Perang Melawan Monster Perusak Bumi” — Dian Pramieta, Buku Seri 1)
–
Para penulis ini cukup cermat karena memasukkan unsur bunyi ke dalam narasi. Bayangkan jika kalimat-kalimat itu hadir tanpa onomatope. Sensasinya tentu berbeda. Pembaca mungkin tetap memahami peristiwanya, tetapi tidak ikut “mendengar” suasana di dalam cerita.
Ada beberapa cara membuat onomatope yang dilakukan para penulis itu.
Pertama, meniru langsung bunyi yang terdengar.
Contohnya:
- ting tong untuk bel rumah
- tok tok tok untuk pintu diketuk
Kedua, menggunakan pengulangan bunyi agar terasa ritmis.
Contohnya:
- tap tap tap untuk langkah kaki
- krek krek krek untuk bunyi ranting atau daun dipatahkan
Ketiga, memakai bunyi yang tidak sepenuhnya sama dengan suara asli, tetapi memberi kesan tertentu kepada pembaca.
Contohnya:
- bruk untuk benda jatuh
- kluntang kluntung untuk benda-benda ringan yang saling berbenturan
Memang, tidak semua tulisan harus memakai onomatope. Justru menariknya, tidak semua cerita dalam ketiga seri buku itu menggunakan bunyi-bunyian semacam ini. Akibatnya, ketika onomatope muncul, efeknya terasa lebih kuat. Ia hadir sebagai penegas suasana, bukan sekadar hiasan.
Namun, penggunaan onomatope juga perlu dijaga. Jangan sampai cerita menjadi terlalu “berisik”. Jika terlalu banyak bunyi dimasukkan, pembaca bisa lelah dan kehilangan fokus pada cerita. Onomatope sebaiknya hadir secukupnya, menyatu dengan narasi, dan memiliki harmoni dengan suasana cerita.
Karena itu, bunyi-bunyian kecil seperti ting tong, tok tok, atau tap tap tap terasa menyenangkan ketika muncul di saat yang tepat. Ia seperti bumbu dalam masakan: tidak mendominasi, tetapi membuat rasa cerita menjadi lebih hidup.
Cessss ….