Belajar Rumi

009

9 JANUARI, 2022

Rumi’s Daily Secrets
Jalaludin Rumi
HB Jassin

Rumi’s Daily Secrets
Camille & Kabiir Helminski

Foto Capri32Auto, Pixabay

When your heart becomes the grave of your secret,
that desire of yours will be gained more quickly.
The Prophet said that anyone
who keeps secret his inmost thought
will soon attain the object of his desire.
When seeds are buried in the earth,
their inward secrets become the flourishing garden.

Di sajak hari ke-9 ini Rumi sedang bicara tentang dirinya. Dia adalah seorang yang penuh rahasia. Brad Gooch, penulis biografi Rumi, sampai memberi judul  bukunya, Rumi’s Secret, Kata “secret‘ berbentuk tunggal, bukan jamak. Mungkin Gooch memperlakukan kata “secret”  itu sebagai uncountable noun  karena rahasia Rumi bagai debu-debu padang pasir: tak terhitung.

Gooch mengatakan bahwa Rumi termasuk dalam kelompok penyair besar yang berahasia sampai akhir hayat mereka. “Like Whitman, or like Shakespeare, he never tells his secret.” 

Whitman, Shakespeare dan Rumi punya kesamaan: masa kecil dalam kehidupan yang sulit. Apakah ini yang menyebabkan mereka dapat menulis dari kedalaman hati dan mengolah persoalan-persoalan kehidupan? Seseorang yang punya kehidupan baik-baik saja tidak akan pernah merasakan sakitnya tertusuk duri (sajak Rumi hari-8), atau sulitnya keterbatasan jarak pandang karena tabir (hari ke-1). Whitman pun tidak akan mungkin menghasilkan puisi The Song of Me, kalau dia tidak merasakan himpitan dalam dirinya.

***

Walt Whitman, sastrawan besar Amerika Serikat, hidup di abad ke-19. Masa kecilnya dijalaninya dengan berpindah dari satu rumah ke rumah lain, sejalan dengan pekerjaan yang dijalani ayahnya. Sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara, dia terpaksa berhenti sekolah di usia 11 tahun dan mulai bekerja  sebagai pesuruh di percetakan.

Perkenalannya dengan percetakan  membuatnya tertarik pada dunia tulis menulis. Di kemudian hari Whitman mencetak sendiri kumpulan puisi yang membuatnya terkenal, Leaves of Grass.  Orang menyebut puisi itu Amerika banget, karena segi bahasa, bentuk dan isi yang penuh kebaruan.

Ada misteri yang membuat orang kepo: tentang orientasi seksual Whitman. Di dalam puisinya samar-samar terbaca bahwa Whitman seorang homoseksual, namun rahasia itu dibawa Whitman dalam senyap ke kuburnya.

***

Siapa sesungguhnya yang menulis karya-karya Shakespeare? Pertanyaan itu menggema empat abad setelah Shakespeare, ikon sastra Inggris, wafat. Pasalnya Shakespeare tidak meninggalkan catatan pribadi yang yang menunjukkan bahwa karya-karya itu miliknya. Apalagi dia berasal dari keluarga kelas bawah, dan tidak berpendidikan. Menjadi pertanyaan bagaimana Shakespeare mendapat exposure tentang sastra?

Will in the World, How Shakespeare became Shakespeare, yang ditulis oleh John Greenbalt, professor humaniti di Harvard University, merupakan literary biography yang menggambarkan bagaimana Will menjadi William Shakespeare. Menurut Greenbalt, sangat mungkin sejak kecil Will mendapat sitimulasi literasi yang kaya dari orang tuanya. Kemungkinan ketika kecil ibunya sering membisikkan nursery rhymes, semacam ini:

Pillycock, pillycock, sate on a hill,
If he’s not gone—he sits there still.

Setelah dewasa, Shakespeare menulis lirik “Pillicock sat on Pillicock-hill,” dalam drama King Lear. Di dalam cerita, lirik itu dinyanyikan oleh Poor Tom, seorang tokoh miskin. tidak waras, namun pintar mengulik kata-kata.

Poor Tom sepertinya merupakan gambaran Shakespeare: sosok dari kelompok marginal. Mungkin Greenbalt ingin menunjukkan bahwa kita tidak bisa memberi judgement pada kondisi fisik dan materi seseorang. Boleh jadi, untuk seorang Shakespeare yang tidak memiliki kelebihan materi, “He heard things in the sounds of words that others did not hear; he made connections that others did not make; and he was flooded with a pleasure all his own.”

***

Seperti komentar Greenbelt, Rumi pernah menulis hal yang mirip. Saya ambil dari buku Gooch:

The secret of my song, though near,
None can see and none can  hear    

Sekalipun kita mendengar sebuah lagu (atau sajak), ada rahasia yang tidak terdengar. Atau mungkin kita akan mendengarnya kelak, sejalan dengan pengalaman dan penghayatan kita?

Contohnya penghayatan saya saat membaca sajak hari pertama Daylight tulisan Helminski

The Beloved is all, the lover just a veil

Semula saya kurang paham mengapa Rumi mengkontraskan “all” (sebagai sifat Allah) dan “veil” (sebagai sifat manusia). Saya bertanya, apa medan makna “veil” bagi lingkungan kehidupan Rumi? Tabir mulai terungkap ketika saya membaca masa kecil Rumi di buku Gooch:

Like most young children, until puberty Rumi spent his earliest childhood years behind the protective walls of the harem, a more intimate and separate domain in a traditional Muslim household, where the women lived and walked about unveiled.

Dari teks di atas saya menginterpretasikan bahwa Rumi kecil belajar tentang kategorisasi: “perempuan – laki”, “di dalam – di luar rumah”, “pembatasan – keleluasaan” dari kehidupan abad ke-13 yang dijalaninya.

Ketika membandingkan Allah dan manusia, dia memakai pembanding “all” (tak terbatas), dan “veil“(pelengkap busana yang membatasi). Konotasi “veil” dalam kalimat Gooch menunjukkan bahwa di dalam pembatasan itu ada keleluasaan dan keamanan: perlindungan, privasi, dan kebebasan bergerak.

Dari pembatasan itu mungkin Rumi belajar untuk menyimpan banyak hal tentang dirinya dalam karya-karyanya. Seperti dikatakan Gooch, Rumi did have secrets—personal, poetic, and theological —that he was always both revealing and concealing.  Ada sebagian yang disampaikan, dan banyak yang disimpan, dalam hal pribadi, puisi dan keagamaannya.

Bu Widarti punya kalimat menarik tentang sajak hari ke-9 ini: Having secrets is sexy. Ya, betul juga ya. Orang jadi penasaran tentang “apa yang kita tutupi”, atau menduga-duga apakah ada lagi yang belum kita buka.

Keraguan atas Whitman dan Shakespeare bisa menjadi hipotesis kalau dalam kerangka ilmiah, tapi juga bisa jadi prasangka kalau versi Lambe Turah.

Bagaimana kalau kita terapkan sajak hari pertama Daylight itu? Bahwa manusia itu hanyalah tabir. Area kita adalah semua tampak jelas dari dalam tabir.  Jadi, sepanjang kita menikmati dan tercerahkan oleh karya-karya pujangga itu, di situlah area keindahan yang menjadi hak kita.

 

× Hubungi saya