Bikin Sajadah Sikat Perca – Di tulisan ini saya akan bercerita tentang karya sajadah yang dibuat dari tekstil tidak terpakai. Sikat perca lebih dikenal dengan nama faux chenille.

Ada dua alasan mengapa saya membuat sajadah ini.

Pertama, saya ingin membuat proyek sajadah dari baju almarhumah ibu saya. Sebelum memulai proyek Sajadah Ibu, saya pastinya harus membuat uji coba terlebih dahulu. Jadi Sajadah Sikat Perca ini adalah uji coba sebelum memulai proyek sajadah handmade yang sesungguhnya.

Kedua, saya ingin mengembangkan sebuah wadah yang mengolah tekstil bekas menjadi barang lain. Dengan kata lain, memperpanjang usia kain agar tidak merusak tanah.

Bikin sajadah

Belajar Faux Chenille

Pasti kenal ya dengan istilah “semestakung”, atau semesta mendukung. Demikianlah yang terjadi pada saya. Pada saat tersirat keinginan mengubah baju almarhumah Ibu menjadi sajadah, saya melihat iklan kursus faux chenille dari Threadapeutic. Wow, langsung saya mendaftar.

Bu Hana, pendiri Threadapeutic, langsung menjadi pengajar. Dari memilih kain hingga menyikat. Hanya proses menjadi yang dilakukan oleh stafnya.

Saya merasa bersyukur mendapat ilmu dari suhunya langsung.Bikin Sajadah

 

 

Palet Warna Sajadah Sikat

Saat memulai Sajadah Sikat Perca, hal pertama yang terpikir adalah tentang palet warna gradasi biru hijau. Saya punya kimono biru, daster krem, sprei hijau dan hijau tai kuda (green teal), scarf biru dan teal green), dan aneka tekstil bekas dengan gradasi warna itu.

Prinsip saya, warna kuat diletakkan di tengah untuk sebagai fokus. Di sekitarnya adalah warna-warna yang lebih muda. Saya juga meletakkan ornamen bunga warna biru dan hijau yang saya gunting dari bantalan kursi.

Bikin sajadah

Teknik Menjahit Sajadah

Setelah membuat pola, saya menumpuk kain sebanyak lima lapis sesuai desain. Jadi, kain warna biru saya letakkan di bawah area biru, kain bernuansa warna krem atau hijau muda saya letakkan di area sajadah yang berwarna muda.

Proses berikutnya adalah menjahit panjang sejajar. Pada proses ini perlu mesin jahit heavy duty atau yang “bandel”. Jarum dan benang yang dipakai pun yang ditujukan untuk jahitan tebal.

Cukup berliku agar sajadah ini bisa terjahit karena pada waktu itu saya belum punya mesin jahit heavy duty. Tukang jahit jeans yang biasanya berkeliling di kompleks saya sedang pulang kampung. Penjahit laki menolak karena merasa tidak telaten. Alhamdulillah ada suami teman, berprofesi sebagai penjahit, mau membantu menjahitkan.

Setelah dijahit dilakukan pengguntingan di antar garis-garis jahitan. Harus hati-hati agar kain bagian bawah tidak tergunting.  Namanya juga newbie, beberapa kali gunting saya menyobek bagian dasar itu. Jalan keluarnya ya ditisik hanya pada bagian sobekan.

Sikat, Sikat

Nah, ini tahapan yang paling seru. Sajadah ini akan memberi efek bulu apabila disikat. Tidak mudah, untuk saya yang tidakk bertenaga besar. Lengan sampai pegal melakukan sikatan agar bulu-bulu keluar.

Sikat yang dipakai cukup sikat kamar mandi. Pastinya saya beli baru ya. Menyikatnya berlawanan dengan arah serat  agar bulu kain bisa keluar. 

Sikat

Fantastik

Konon air laut tidak boleh menggarami sendiri. Itu yang terjadi pada saya. Saya memuji karya sendiri. Ini “upah” yang saya berikan atas terwujudnya karya pertama sajadah bulu.  Saya mengapresiasi diri sendiri agar semangat melanjutkan proyek berikutnya: sajadah dari baju almarhum Ibu. Juga proyek yang lebih besar: mengajak orang untuk memanfaatkan tekstil yang tidak terpakai di rumah menjadi benda bermanfaat.

Fantastik kan kalau kita bisa berpartisipasi menyelamatkan lingkungan.

 

Hiasan bunga

Tepi jahitan

 

 

 

× Hubungi saya