Kain perca kenangan adalah serpihan-serpihan yang begitu banyak dalam kehidupan keluarga kami. Ya, dulu ketika kami kecil, di ruang kerja Ibu terdapat bergunung-gunung bungkusan plastik berisi potongan-potongan kain. Kami menyebut potongan kain itu dengan pipian, bahasa Jawa untuk perca (Cerita tentang proyek sajadah berbasis lingkungan hidup, atau ecocraft, dapat dibaca di sini)

Pipian itu tidak boleh dibuang, namun juga tidak dimanfaatkan dengan optimal. Bisa dipahami. Pekerjaan Ibu sebagai penjahit sudah demikian banyak, jadi tidak sempatlah membuat karya dari perca kain.

Kenangan atas pipian itu saya ungkapkan dalam bentuk sajadah yang menggambarkan kehidupan kami, khususnya Ibu.

Sajadah saya bagi menjadi tiga bagian, masing-masing kurang lebih menempati 1/3 dari sisi yang memanjang. Pada area pertama terdapat lingkaran-lingkaran, sebagai simbol bungkusan-bungkusan plastik berisi pipian. Bagian kedua (tengah) menjadi simbol bagaimana bentangan kain utuh kelak akan menjadi pipian. Area ketiga merupakan pipian itu sendiri.

kain perca

Palet Warna untuk Kain Perca

Warna yang saya pakai untuk sajadah ini adalah marun ke arah cokelat, dan jingga muda. Marun saya letakkan pada bagian bawah, Jingga bermotif bunga pada bagian tengah, dan jingga polos pada bagian atas.

Di balik kain marun saya susun perca baju Ibu dengan susunan memanjang, Biar terlihat rame seperti pipian. Jadi bila lapisan teratas digunting, lapisan rame di bawahnya akan terlihat.

Kain perca

Teknik Menjahit Perca

Ada tiga teknik menjahit yang saya pakai untuk sajadah ini.

Faux Chenille

Pertama adalah teknik faux cheniile yang saya pakai untuk bagian atas dan tengah. Faux chenille merupakan teknik mengeluarkan serat pada kain. Caranya dengan menjahit bersama lima tumpukan kain (tidak perlu utuh). Jahitannya dibuat sejajar berukuran kira-kira 1 cm. Setelah itu, dilakukan pengguntingan di antara jahitan sejajar. Terakhir, kain disikat hingga keluar seratnya.

Stitch and Slash

Teknik kedua adalah stitch and slash . yang saya letakkan pada bagian atas. Pada sajadah ini, saya memadukan teknik faux chenille dengan stitch and slash agar ada kesan bulatan-bulatan. Seperti faux chenille, pada teknik stitch and slash dilakukan jahitan pada tumpukan kain, dengan bentuk melingkar beberapa kali. Kemudian digunting, tanpa diikuti dengan penyikatan.

Fabric Slashing

Ketiga, teknik fabric slashing with twists untuk bagian bawah. Teknik ini dilakukan dengan menjahit tumpukan kain secara sejajar, dengan jarak lebar. Jahitannya memakai zigzag agar indah. Lalu digunting pada celah di antara jahitan. Setelah itu, pada posisi tegak lurus  zigzag, dilakukan jahitan untuk menahan arah kain yang digunting.

kain perca

 

Hiasan Perca dari Kulit

Dari Studio Hutz, lembaga kursus pembuatan kriya kulit, saya menerima potongan kulit sisa peserta kursus membuat tas. Potongan kulit itu biasanya dibuang begitu saja. Kebetulan ada warna jingga sisa kulit tas yang dibuat oleh seorang sahabat saya yang ikut kursus di sana. Di sajadah ini tampak manis kan, potongan kulit itu.

Ecocraft

Alhamdulillah

Pada saat saya menulis blog ini, sajadah pipian tinggal diberi backing dan bisban. Tinggal sedikiiiit lagi, sudah jadi.

× Hubungi saya