Rumi 5

Belajar Rumi

005

5 JANUARI, 2022

Rumi’s Daily Secrets
Jalaludin Rumi
HB Jassin

Rumi’s Daily Secrets
Camille & Kabiir Helminski

Foto Aynur Zakirov, Pixabay

Suspicion and greed at the table of Majesty are ingratitude.

Akhir-akhir ini algoritme Instagram selalu membawa konten Elon Musk ke feeds IG saya. Semakin sering saya membuka Reels atau unggahan tentang Elon, IG pun mengira saya suka, dan semakin banyak saya mendapat kiriman unggahan Elon.

Ya, saya senang membaca tentang Elon karena eksentrik, unik, out of the box, pintar, cinta lingkungan, mengurus ke-5 anaknya, CEO yang memang bekerja, dan tidak jaim. Semoga benar demikian, karena saya hanya mengamati dari HP:)

Ada satu pemberitaan tentang Elon yang saya pikir terkait dengan sajak tentang keraguan dan kerakusan di atas. Elon pernah mengumumkan di Tweeter-nya bahwa dia berencana “to own no houses”. Menurut LA Times, Elon telah menjual empat rumah di California senilai $62 juta. Kalau dikonversi ke rupiah, jumlahnya adalah  Rp 892.466.933.865,80.

Mau tahu rumahnya? Coba intip di LuxuryLaunches.com. Hmm …  rumah idaman banget karena stylish dan ramah lingkungan. Rumah itu nemanfaatkan energi matahari dan menghadap Samudra Pasifik. Sikap pro-lingkungan Elon yang membuat saya tanpa sadar jadi penggemarnya.   

Setelah menjual propertinya, Elon pindah ke rumah berukuran 36 meter persegi, yang dibelinya dengan harga $50.000 atau Rp720.000.000 Elon berpikiran praktis. Dia mendekat ke kantornya, pabrik yang sedang membangun satelit untuk ke Mars.

Ukuran kepuasan Elon berbeda dengan orang kebanyakan. Dia tidak lagi membutuhkan rumah mewah, hanya rumah secukupnya untuk tidur. Namun dia tengah membangun mimpi untuk terbang ke Mars dan dia wujudkan.

Saya pikir ini bukan greed, tapi justru merupakan rasa syukur gaya Elon. 

 

Rumi 4

Belajar Rumi

004

4 JANUARI, 2022

Rumi’s Daily Secrets
Jalaludin Rumi
HB Jassin

Rumi’s Daily Secrets
Camille & Kabiir Helminski

Foto Canva

The undisciplined man doesn’t wrong himself alone—
he sets fire to the whole world.
Discipline enabled Heaven to be filled with light;
discipline enabled the angels to be immaculate and holy.

 Di hari ke-4 ini saya akan bercerita tentang Bu Mardiah,  seorang aktivis sosial di RW sebelah. Baris pertama saya buat menjadi positif, dan kata “disiplin” saya ubah menjadi “kesantunan”, sesuai kata “adab” yang terdapat dalam sajak Rumi berbahasa Persia.

Dengan kesantunannya (baca: kepedulian pada orang lain), Bu Mardiah membiaskan cahaya ke sekelilingnya.

“Saya hanya lulusan SMP,” katanya. Namun Bu Mardiah menunjukkan bahwa agar bisa membiaskan cahaya dunia, yang diperlukan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, bukan ijazah.

Untuk menjangkau rumahnya, kita perlu melewati gang di samping tukang nasi uduk yang hanya bisa dilalui motor. Setelah belok kiri, belok kanan, melewati hamparan irisan singkong dijemur, sampailah kita di rumah Bu Mardiah. Di rumahnya ada satu ruangan berisi rak yang dipadati dengan deretan kemasan keripik singkong bermerek namanya sendiri: Ibu Mardiah.

Di dinding rumahnya terpajang piagam-piagam yang ditandatangani Gubernur DKI. Bu Mardiah pernah menjadi Juara I KUBE (Kelompok Usaha Bersama) tahun 2018, Juara III Pekerja Sosial Masyarakat   (2018), Juara I Pekerja Ssosial Masyarakat (2019).

Penghargaan itu diperolehnya karena keberhasilannya memberdayakan masyarakat sekitar dalam usaha makanan kering tradisional. Ada keripik singkong , dan ada kembang goyang. Bu Mardiah berjualan keripik singkong sejak 2006, dengan memakai resep keluarga. Dia mengajak tetangga-tetangganya menjadi pemasok keripik Ibu Mardiah, dan mendirikan koperasi usaha. Di luar usaha keripik, Bu Mardiah melebarkan langkah dengan menjadi aktivis di lingkungan. Dia aktif di Posyandu, Pos Pelayanan Pemandu, kegiatan yang memantau pertumbuhan balita setiap bulan, Dia juga menjadi Koordinator Jumantik, Juru Pemantau Jentik, petugas yang memantau jentik di lingkungan RW untuk mencagah demam berdarah.

Sebelum pandemi, dia dikirim kelurahan untuk mengikuti lomba Pekerja Sosial Masyarakat tingkat nasional. PSM adalah relawan sosial yang berperan dalam kesejahteraan masyarakat. Saya tidak mendengar hasilnya, tetapi yang saya tahu Bu Mardiah dan para finalis bertemu Pak Presiden. Bu Mardiah menjadi kebanggaan lingkungannya.

Saya pun bangga karena punya peran sedikit dalam persiapan lomba tingkat nasional. Bu Mardiah meminta saya merapikan paparan Power Point-nya. Saya buatkan desain PPT dengan gambar bunga gerbera. Saya melihat Bu Mardiah punya karakter bunga itu: ayu, sederhana, mudah beradaptasi.

Dengan karakter itu, Bu Mardiah pun menebarkan cahaya.

Rumi 3

Belajar Rumi

003

3 JANUARI, 2022

Rumi’s Daily Secrets
Jalaludin Rumi
HB Jassin

Foto oleh Alexa’s Fotos, Pixabay.

Let’s ask God to help us to self-control:
for one who lacks it, lacks His Grace. 

Sore ini saya dan suami mencari jajanan buka puasa. Karena kami penggemar pisang, kami mencari tukang buah yang menjual pisang buah ataupun pisang untuk diolah. Lewatlah kami di depan penjual  yang menyediakan berbagai macam pisang dalam keadaan matang. Ada pisang tanduk, pisang kepok, pisang raja dan pisang ambon.

Saya tidak turun dari mobil, karena untuk urusan beli buah-buahan suami saya lebih jago.

Ketika kembali ke mobil, suami saya menunjuk ke arah tukang pisang, “Tuh ruko dijual,” katanya.

Saya tidak paham. Saya menengok ke arah penjual pisang. Ya, dia berdiri di pojokan ruko baru dengan rolling door tertutup berwarna cokelat. Ada kertas bertuliskan “Dijual” di pintu ruko. Pisangnya digantung di palang yang disangkutkan antara tembok ruko dan tiang di depan ruko.

“Dia nyewa di situ. Dulu tanah itu punya keluarganya,” kata suami saya.

Ah, biasa kan. penduduk lokal di daerah kami menjual tanah dan kemudian mengontrak di tanah yang pernah dimilikinya.

“Tanah itu dijual diam-diam sama adiknya. Pembeli baru membangun ruko, dan akan menjual ruko itu.”

Saya terkejut mendengar cerita “Diam-diam dijual adiknya”. Hebat kali suami saya, berhasil mengorek cerita dalam waktu singkat. Saya menduga, pasti percakapan berawal dari pertanyaan tentang tanda “dijual” di pintu ruko.  Kebetulan hal itu menyentil emosi tukang pisang, sehingga keluarlah cerita masa lalunya.

Bahwa tukang pisang sampai curhat kepada orang yang tidak dikenalnya, pasti dia masih terluka. Namun dengan tetap berjualan di lokasi yang menggoreskan luka, dia tanpa sadar  menerapkan tiga  kontrol diri seperti yang dikemukakan James Averill, psikolog AS. Tukang pisang melakukan kontrol perilaku, kontrol kognitif, dan kontrol keputusan. Walaupun hatinya hancur karena tanah warisan dijual adik, tukang pisang tetap dapat mengendalikan perilaku, berpikir ke depan, dan membuat keputusan objektif. Dia tetap mencari sesuap nasi untuk keluarga dengan berjualan pisang, yang memang sudah ditekuninya sejak muda, di lahan yang sudah dikenalnya dan orang mengenalnya.

Tukang pisang merupakan contoh kontrol diri yang terdapat di Surat Al-Hujurat ayat 10 (“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih, dan bertakwalah pada Allah agar kamu mendapat rahmat”) dan Surat Al-Hujurat ayat 12 (“Jauhilah prasangka karena prasangka itu adalah cerita yang paling dusta, dan janganlah kamu saling memaki, saling mencari kesalahan, saling membanggakan, saling beriri, saling membenci, dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara”).

Pastilah pahit dikhianati saudara sendiri, namun tukang pisang dapat melampaui ujian itu dengan melakukan pengendalian diri. Dengan melakukan kontrol diri dia mendapat His-Grace (istilah Rumi), atau rahmat (istilah di dalam Surat Al Hujurat).

Rumi 2

Belajar Rumi

002

2 JANUARI, 2022

Rumi’s Daily Secrets
Jalaludin Rumi
HB Jassin

Foto hati oleh Ben_Kerckx, Pixabay.

Kekasih adalah segalanya, pencinta hanya sebuah tabir

Kekasih hidup abadi, pencinta hanyalah benda mati

Jika cinta meninggalkan perlindungan yang kuat,

pencinta akan ditinggalkan seperti

burung yang tanpa sayap.

Bagaimana aku akan terjaga dan sadar

jika tidak disertai cahaya Kekasih.

Cinta menghendaki firman ini disampaikan.

Jika kita menemukan cermin hati yang kusam

karat ini tidak terhapus dari wajahnya.

Saya tidak paham membaca puisi ini. Siapa “Kekasih” dan siapa “pencinta”? Saya menginterpretasikan “kekasih” itu terkait dengan perasaan yang tulus dan divine, sementara “pencinta” itu terkait dengan nafsu. Saya sampaikan kepada Bu Widarti bahwa saya tidak paham, dan menurut Bu Widarti “pencinta” adalah orang yang mencintai “kekasih”. Ini semacam pendekatan terhadap Tuhan. Oke, masih ada persamaan dari interpretasi kami: Kekasih adalah sosok divine, sementara pencinta adalah sosok duniawi.

Namun saya  bingung pada baris berikutnya. Kata “cinta” pada baris ketiga tampaknya mengacu pada “kekasih” atau “pencinta” kehilangan rasa cintanya?

Karena penasaran pada isi puisi hari kedua, saya pun membeli versi bahasa Inggris yang menjadi sumber penerjemahan Pak Jassin. Alhamdulillah ada di ebook Rumi Daylight di Google Playbook, dengan harga diskon dan bonus poin. Apakah semesta mendukung?

Ini adalah teks puisi hari kedua pada buku edisi Inggris.

The Beloved is all, the lover just a veil.
The Beloved is living, the lover a dead thing.
If Love witholds its strengthening care,
the lover is left like a bird without wings.
How will I be awake and aware
if the light of the Beloved is absent?
Love wills that this Word be brought forth.
If you find the mirror of the heart dull,
the rust has not been cleared from its face.

Teks Inggris ini menjadi jawaban atas teka-teki tentang “kekasih” dan “pencinta”.  “The Beloved” adalah Tuhan, sedangkan “the lover” adalah manusia. Interpretasi itu terbantu dari penggunaan huruf kapital. Penerjemahan yang terlalu ketat mengacu pada bahasa sumber (Inggris) membuat pembaca Indonesia tidak memperoleh rasa yang sama dengan ketika membaca teks bahasa Inggris.

Mengapa Pak Jassin tidak memakai “Sang Kekasih” sebagai padanan “The Beloved” dan “Love”? “Sang Kekasih” merupakan gabungan kata sandang dan nomina sehingga sepadan dengan struktur “The Beloved”. Penulisannya pun bisa memakai huruf kapital, sehingga pembaca tahu bahwa yang dimaksud adalah Tuhan.

Tanpa bermaksud sok tahu, saya mencoba memperbaiki terjemahan Pak Jassin. Mohon maaf ya, Pak Paus Sastra, saya hanya mencari kenyamanan dalam memahami teks Rumi.

 

 

Kekasih adalah segalanya, pencinta hanya sebuah tabir

Setelah membaca teks Inggris ini, saya meyakini bahwa puisi ini terinspirasi pada asmaul husna (99 sifat Allah). Seandainya penerjemahan mengacu pada istilah yang dipakai dalam asmaul husna, pembaca Indonesia akan lebih mudah paham.

Baris pertama menyebutkan “all”. Mesti dipelajari kata apa yang dipakai Rumi yang mengacu pada sifat yang tak terukur. Ada empat kemungkinan, yaitu Dzul Jalaali Wal Ikraam (Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan), Al Muta`aalii (Mahatinggi), Al Kabiir (Mahabesar), Al `Azhiim (Mahaagung)

Pemakaian prefiks/kata “maha” akan membuat pembaca Indonesia mahfum bahwa yang dibicarakan adalah Tuhan. “Maha” mengandung arti “sangat” atau “amat” dan biasa dipakai untuk menggambarkan sifat superlatif Tuhan. “The Beloved is all” akan dapat dipahami orang Indonesia kalau terjemahannya “Sang Kekasih mahabesar”. Dari keempat sifat yang terkait dengan “allness” saya memilih “mahabesar”.  Kata itu mengacu pada sesuatu yang tak terhitung lagi ukurannya, menempati segala yang ada di semesta dan hati manusia.

Anak kalimat “the lover just a veil” diterjemahkan menjadi “pencinta hanya sebuah tabir”. Satuan “sebuah” kurang halus. Mengapa tidak “selapis”? Pada baris itu disampaikan kontras antara sifat Tuhan dan manusia. “All” dikontraskan dengan “veil”. “All” mengandung makna segalanya, yang jauh dan dekat, sedangkan “veil” terkait dengan daya pandang terbatas. Walaupun medan makna “tabir” dan “veil” tidak sama, saya setuju dengan pemilihan kata ini. “Tabir” adalah segala sesuatu yang melapisi, sedangkan “veil” terkait dengan busana perempuan yang membuat pemakai tidak bisa melihat dan dilihat. Ada medan makna yang sama antara keduanya: selapis, tipis. Untuk menambah kontras saya pikir bisa  dipakai “selapis” atau “setipis tabir.”

Kekasih hidup abadi, pencinta hanyalah benda mati

Baris kedua, berbunyi, The Beloved is living, the lover a dead thing, dan diterjemahkan menjadi “Kekasih hidup abadi, pencinta hanyalah benda mati”

Sifat Allah yang mungkin ada terkait dengan baris itu adalah Al Baaqii (Mahakekal) dan Al Hayyu (Mahahidup). Jadi terjemahan yang saya tawarkan adalah “Sang Kekasih Mahakekal, pencinta makhluk fana”. Alih-alih menggunakan frase “benda mati” yang kurang puitis, saya memilih kata “fana”.

Jika cinta meninggalkan perlindungan yang kuat, pencinta akan ditinggalkan seperti burung yang tanpa sayap.

If Love witholds its strengthening care, the lover is left like a bird without wings. diterjemahkan menjadi “Jika cinta meninggalkan perlindungan yang kuat, pencinta akan ditinggalkan seperti.burung yang tanpa sayap.” Frase “meninggalkan perlindungan yang kuat” tidak lazim. “Withold” berarti “mengurangi”, “melepas” atau “menghentikan”, namun dalam kalimat ini saya cenderung menjadikannya kalimat negatif, tidak lagi melakukan sesuatu: “Jika Sang Kekasih tidak lagi menjaga”.

Strengthening care” terkait dengan sifat halus tapi maskulin, jadi sifat Allah yang tepat adalah Al Mu`min (Maha Memberi Keamanan) dan Al Waliyy (Maha Melindungi). Padanan yang tepat adalah “penjagaan”. Jadi lengkapnya: “Jika Sang Kekasih tidak lagi menjaganya, pencinta pun seperti burung tanpa sayap“, tanpa kata tugas “yang”. 

 

Bagaimana aku akan terjaga dan sadar jika tidak disertai cahaya Kekasih.

“How will I be awake and aware if the light of the Beloved is absent?” Kata “will” di dalam kalimat ini tidak bersifat futuristik seperti yang terkandung pada kata “akan”. Saya cenderung melihat kata “will” sebagai perilaku yang tetap atau kebiasaan. Di dalam kamus Merriam Webster disebutkan bahwa salah satu definisi “will” adalah “used to express frequent, customary, or habitual action or natural tendency or disposition”. Jadi padanan yang lebih tepat adalah “tetap”, dan untuk anak kalimat seluruhnya adalah “Bagaimana aku bisa tetap terjaga dan sadar”. Saya tambahkan kata “bisa” untuk penekanan.

“If the light of the Beloved is absent” diterjemahkan “jika tidak disertai cahaya Kekasih”. Tidak ada yang salah pada padanan itu. Namun supaya terasa ada bonding antara aku dan Sang Kekasih, saya cenderung mengatakan “tanpa bimbingan cahaya Sang Kekasih”. Kata “bimbingan” lebih  menunjukkan kehadiran Sang Kekasih.

Jadi terjemahan lengkap adalah “Bagaimana aku bisa tetap terjaga dan sadar, tanpa bimbingan cahaya Sang Kekasih?”

Cinta menghendaki firman ini disampaikan.

“Love wills that this Word be brought forth” diterjemahkan menjadi “Cinta menghendaki firman ini disampaikan”. Kata “will” merupakan verba, bukan auxilliary verb (penanda futuristik), jadi cukup tepat dipadankan dengan “berkehendak”. Yang perlu diperhatikan, “Word” bersifat tunggal, mengacu pada hal yang spesifik. Jadi firman mana yang dimaksud? Saya menginterpretasikan bahwa firman itu terkait dengan kalimat terakhir pada puisi.

 

Jika kita menemukan cermin hati yang kusam, karat ini tidak terhapus dari wajahnya

Kalimat di atas terdengar aneh di telinga saya. Kata ganti “kita” membuat saya harus mengubah point of view, dari orang ketiga tunggal (Sang Kekasih),  lalu orang pertama (aku), dan terakhir “kita”.

Kata “karat” tidak berkolokasi dengan “wajah” karena wajah bukan logam.

Versi bahasa Inggrisnya adalah: “If you find the mirror of the heart dull, the rust has not been cleared from its face”. Rumi memakai kata “you“, karena ini adalah pesan dari Sang Kekasih yang perlu disampaikan. Sang kekasih memberi peringatan semacam: hati-hati ya jika cerminan hatimu kusam. …. atau isi hati yang terpantul di wajahmu terlihat kusam.

Pada anak kalimat “the rust has not been cleared from its face”,  kata “its face” mengacu pada cermin, bukan wajah manusia. Kata “face” pada kalimat itu mengandung makna permukaan, bukan wajah,

Pada anak kalimat berikutnya, penggunaan tense “has not been” adalah present perfect continuous, yang berarti “sudah dimulai dan akan terus berlangsung”. Jadi ada harapan dan trust bahwa kegiatan membersihkan kotoran (penyebab kusam) belum selesai. Ini sangat berbeda dengan terjemahan “karat ini tidak terhapus dari wajahnya” yang seolah-olah sudah final tidak akan bisa dihapus.

Terjemahan Rumi Hari Kedua versi saya adalah:

Sang Kekasih adalah Mahabesar, pencinta hanya selapis tabir.

Sang Kekasih Mahakekal, pencinta makhluk fana.

Jika Sang Kekasih tidak lagi menjaganya,

pencinta pun seperti burung tanpa sayap.

Bagaimana aku tetap bisa terjaga dan sadar

tanpa bimbingan cahaya-Nya.

Sang Kekasih  menghendaki firman ini disampaikan:

Jika cerminan hatimu kusam,

ada kotoran yang belum dibersihkan.

Setuju? Bila tidak, tidak apa-apa. Puisi itu interpretable.

Pembacaan puisi hari kedua ini berbeda dengan tujuan saya sebenarnya. Semula saya ingin mendapatkan insight, bukan menganalisis terjemahan. Namun apa boleh boleh kalau jembatan yang kita pakai untuk mencapai tujuan perlu diperbaiki dahulu.

Ketika kuliah, saya mengikuti satu atau dua semester kuliah terjemahan. Dulu saya tidak menikmati kuliah itu karena membedah penerjemahan dari tingkat paragraf sampai morfem. Namun berpuluh-puluh tahun kemudian pengetahuan itu berguna untuk membangun kedekatan saya dengan Tuhan. Ya, ketika terjemahan teks yang saya hadapi kurang tepat, saya punya perkakas untuk memperbaikinya.

 

 

 

Rumi 1

Belajar Rumi

001

1 JANUARI, 2022

Rumi’s Daily Secrets
Jalaludin Rumi
HB Jassin

Foto mawar oleh Nowaja, Pixabay.

Tuhan -kendati ada kaum skeptis-

telah menyebabkan taman-taman ruhani

dengan bunga-bunga harum

tumbuh dalam hati sahabat-sahabat-Nya.

Tiap semerbak harum di dalamnya.

mawar bercerita tentang rahasia semesta.

Harumnya membingungkan kaum skeptis,

menyebar ke seluruh dunia, mencabik selubung.

Tahun baru, belajar hal baru.

Tahun ini tiba-tiba datanglah kesempatan belajar Rumi. Saya hanya mengenal sedikit-sedikit tentang Rumi, ketika saya ikut kajian tasawuf di Sabtu sore di Paramadina belasan tahun silam. Tidak ada yang tersisa di benak kecuali tasawuf itu adem, dan Rumi salah satu tokohnya. Saya tidak melakukan pencarian lebih lanjut karena agak dipengaruhi oleh doktrin bahwa kalau kita belajar tasawuf tanpa mendalami syariah, kita akan asyik berkhayal tentang keindahan Ilahi tapi mengabaikan bagaimana kita menyatakan terima kasih kepada-Nya (baca: menjalankan syariah).

Namun setelah bertahun-tahun, level syariah saya tidak menjadi lebih baik. Indikatornya adalah halaman Al-Quran yang tidak bertambah, jam shalat yang tetap berjarak dengan kumandang azan. Jadi datangnya ajakan untuk mengkaji Rumi menjadi titik untuk menjalin hubungan yang lebih baik dengan-Nya. Kehalusan kata-kata Rumi mungkin bisa membuat saya lebih halus dalam menalikan ikatan dengan Allah.

Ajakan membaca Rumi’s Daily Secrets datang dari Ibu Widarti Gunawan. Beliau mengirim buku Rumi yang sudah diterjemahkan oleh HB Jassin. Menarik, yang dikirim adalah buku bekas, berarti sudah ada tangan-tangan yang memegangnya, dan mungkin juga hati yang terhubung dengan Allah melalui karya Pak Jassin. Ibu Widarti juga mengajak saya mengkaji Rumi setiap hari, karena buku itu berisi 362 puisi. Cukup ambisius mengingat saya kerap teralih pada banyak hal. Bismillah, semoga tujuan baik ini lancar.

Apa tujuan saya? Simpel, sesuai indikator yang saya sebutkan di atas. Memperpendek jeda antara azan dan shalat serta mulai mengaji lagi. Ya, saya akan mencari guru mengaji. Kalau saya ada goal untuk menyelesaikan Rumi, mestinya saya juga ada goal menyelesaikan bacaan yang lebih tinggi tingkatannya, Al-Quran.

Lalu, sebetulnya bisa kan goals itu dicapai tanpa membaca Rumi? Tidak, saya tetap perlu Rumi karya Pak Jassin. Saya iri kepada Pak Jassin yang pernah mencapai titik hubungan terdekat dengan Allah, dengan menerjemahkan Al-Quran Al-Karim Bacaan Mulia. Meskipun karya Pak Jassin tidak terlalu populer di kalangan pengkaji Islam, bagi saya bukan menjadi ukuran untuk kedekatan seorang manusia dengan penciptanya.

Pak Jassin mungkin telah mencium aroma bunga yang bercerita tentang rahasia semesta. Saya baru di tahap melihat bunga cantik. Saya tahu bunga itu harum, tetapi saya tidak juga melangkah untuk mencium aromanya.

Mungkin saya bisa menguak rahasia semesta kalau telah melintasi dua jalan untuk mendekat kepadanya. Melalui jalan syariah, dan subsyariah. Saya memberi istilah subsyariah, karena ini adalah tugas yang hanya menempel pada kita, bukan kepada orang lain. Dalan hal ini peran saya sebagai ibu, adalah pesan yang diberikan Allah kepada setiap ibu, bukan kepada orang lain.

Kemarin saya bercakap-cakap dengan seorang ibu yang gelisah dengan putranya yang memasuki usia remaja. “Nggak usah khawatir, Mbak. Sepanjang Mbak mengecek chat dan browsing di HP-nya setiap malam akan aman,” kata saya.

“Itu dia, Bu,” katanya. “Saya tidak konsisten melakukannya. Tapi kami sudah pakai pengaman untuk internet.”

Duh gampang ya memberi nasihat. Saya bercermin kepada diri saya, yang tidak konsisten membangunkan Bintang, anak saya yang kedua, setiap pagi. Dia kerap melukis tengah malam, dan bangun kesiangan.  Saya membangunkan dia supaya tidak ketinggalan shalat subuh, saat ketika malaikat menyampaikan sapa pagi.

Eh apakah shalat saya sudah khusuk sehingga dapat mendengarkan sapaan pagi malaikat? Jujur ya … shalat subuh adalah shalat yang paling terburu-buru, karena di kepala sudah ada A-Z yang akan dilakukan. Kalau saya belum halus melakukan percakapan batin di pagi hari, bagaimana Bintang terbiaskan oleh energi saya?

Kalau saya sendiri belum mencium aroma bunga yang disebutkan Rumi lewat Pak Jassin, bagaimana mungkin saya meyakinkan orang lain bahwa ada harum yang penuh misteri. 

× Hubungi saya