Rumi 24

Rumi 24

Belajar Rumi

Hari Ke-24

 

REFERENSI

Rumi's Secrets

HB Jassin

RUMI DAYLIGHT

Camille & Kabir Helminski

If ten lamps are present in one place,
each differs in form from another;
yet you can’t distinguish whose radiance is whose
when you focus on the light.
In the field of spirit there is no division;
no individuals exist.
Sweet is the oneness of the Friend with His friends.
Catch hold of spirit.
Help this headstrong self disintegrate;
that beneath it you may discover unity,
like a buried treasure.

Masnawi I, 867

Harmoni dalam Keberagaman

(Di Dapur)

Saya menafsirkan sajak ke-24 ini sebagai kebersamaan dalam keberagaman. Jika 10 lampu berpendar, maka kita tidak dapat membedakan cahaya yang satu dengan lainnya. Ke-10 lampu itu membentuk harmoni cahaya. Jadi tidak penting lagi mana lampu yang membiaskan cahaya terindah. Ketika satu lampu padam, akan terjadi ketimpangan. Ketika kita menulis puisi harmoni dalam keberagaman, saya pikir paling tepat adalah menulis puisi tentang masakan, Hmm … Dari pencarian di internet saya menemukan buku puisi kuliner yang menarik. Sayangnya buku itu tidak dijual bebas. Dari blog Puisi Kuliner yang Matang | Sainul Hermawan (ulm.ac.id) ada kutipan puisi yang yummy. Izin kutip ya, Pak Sainul Hermawan.

kalau saja tahu Sumedang itu  tahu

akan terhidang di rumah makan Padang

ia takan cukup berani meradang

dalam gulai cumi isi tahu

dikocok bersama telur dan daun bawang

 

tetapi tahu tetap saja tahu

walau suka pergi jauh merantau ke mana-mana   

ia tak kan pernah mau cerita

tentang penderitaan tersesat di dalam perut cumi

 

sementara kamu diam-diam mencatat

pelanggan yang tak henti setiap makan siang

minta dihidangkan gulai cumi isi tahu

dengan bahasa Padang logat Sunda

 

(Eddie MNS Soemanto)

Setuju bahwa puisi karya penyair bernama Jawa ini lucu? Toss, yuk! Puisi itu berjudul “Gulai Cumi Isi Tahu” yang mengisahkan penderitaan tahu Sumedang di perut cumi. Cumi itu menjadi favorit pelanggan yang  berbahasa Padang logat Sunda. Penjualnya pun bersukacita karena hidangan itu laris manis.

Penyatuan gulai Padang dan tahu Sumedang menjadikan warung itu sah menjadi rumah makan Padang yang dimiliki orang Sunda. 

Catatan

Di Balik “Belajar Rumi”

Tentang Belajar Rumi

Tentang “Belajar Rumi” adalah jurnal berdasarkan sajak di buku Rumi’s Daily Secrets dan Rumi Daylight.

Apakah jurnal ditulis setiap hari?

Cita-citanya begitu, namun ternyata untuk menyelesaikan satu tulisan perlu waktu beberapa hari.

Apa yang ditulis di dalam jurnal?

Setelah hari ke-24 saya mendapatkan diri saya berproses. Semula saya menulis refleksi sajak dalam kehidupan saya, kemudian saya menulis pengamatan saya terhadap sekeliling yang relevan dengan sajak Rumi. Terakhir saya menulis tentang sajak Rumi sebagai inspirasi menulis puisi. Mungkin karakter penulisan saya akan berubah lagi, Wallahu alam. Ini menunjukkan betapa lenturnya pemikiran Rumi. 

Apakah Rumi relevan untuk kehidupan masa kini?

Yes. Definitely.

Itulah mengapa penulisan saya beralih menjadi gagasan penulisan puisi. Hari gini menulis puisi? Jangan salah. Orang sekarang cenderung membuat tulisan pendek. Entah itu status di WA atau caption di Instagram dan Tiktok. Dengan mempelajari Rumi, mungkin tulisan pendek itu akan lebih bermakna? Semoga! 

Kok Bersemangat banget, siapa teman diskusimu?

Sosok yang mengajak saya membaca sajak harian Rumi adalah Ibu Widarti Gunawan, Setiap hari kami membahas diksi atau pesan sajak yang dibaca hari itu. Cukup seru. Kadang kami bingung, kadang kami lelah, kadang kami menemukan hal baru dan seolah berteriak “Eureka”. Apa pun, kami terus maju.

Tentang Rumi, Helminski & Jassin

Jalaludin Rumi

Rumi (1207-1273) adalah penyair, ulama dan sufi. Dia lahir di Afghanistan, namun kemudian hidup berpindah tempat mengikuti ayahnya, dan akhirnya mukim di Turki hingga akhir hayat.

Dua sosok yang membentuk Rumi menjadi penyair dan sufi adalah ayahnya dan mentornya, Shams-i- Tabrizi. Pengaruh kedua orang itu mengasah Rumi dalam  menorehkan puisi keilahian yang dibalut dengan dongeng, deskripsi alam,  dan kisah. Puisi-puisi Rumi menembus batas wilayah, waktu dan agama.

Hingga akhir hayatnya Rumi menulis puisi yang dihimpun dalam enam jilid buku berjudul Masnawi. 

Camille & Kabir Helminski

Camille dan Kabir Helminski adalah pasangan suami istri yang mengelola The Threshold Society of Santa Cruz, California. Lembaga nirlaba itu mengkaji dna memberikan pelatihan tentang sufisme. Kabir menulis banyak buku tentang sufisme dan Rumi.

Buku Rumi Daylight berisi 365 sajak untuk inspirasi harian yang diambil dari Masnawi I dan II.

 

 HB Jassin

Hans Bague Jassin (1917-2000) dikenal sebagai tokoh kritikus sastra dan penulis cerpen dan puisi.

Ketertarikannya pada agama terlihat dari karyanya, Bacaan Mulia, yang merupakan terjemahan Al Quran.

Menjelang akhir hayatnya Jassin menerjemahkan Rumi Daylight, karya Camille & Kabir Helminski. Naskah Jassin belum selesai utuh saat Jassin wafat. Sahabatnya, Ali Audah, merapikan naskah itu hingga bisa diterbitkan.

 

Rumi 23

Rumi 23

Belajar Rumi

(Aku Ingin …. Berpuisi)

  • Rumi Daylight (Camille & Kabir Helminski)
  • Rumi’s Daily Secrets (HB Jassin)

023

23 JANUARI, 2022

How long will you say,

“I will conquer the whole world
and fill it with myself”?
Even if snow covered the world completely,
the sun could melt it with a glance.
A single spark of God’s mercy
can turn poison into springwater.
Where there is doubt,
He establishes certainty

Sajak ke-23 bicara tentang keraguan dan kepastian. Ketika manusia ragu, Tuhan datang memberi kepastian. Ya, keraguan adalah milik manusia, sedangkan kepastian hanya datang dari Tuhan. 

Sajak ini bisa kita titeni, tiru dan tambahi, seperti teknik belajar awal versi Ki Hajar Dewantara. Titeni adalah mengamati, tiru adalah meniru, dan tambahi adalah menggubah menjadi karya baru.

Ketidakpastian bisa diterjemahkan menjadi sesuatu yang diangankan saat ini. Angan-angan ini kelak bisa nyata dan bisa juga tidak. Kita bisa menulis puisi yang diawali dengan  “Aku ingin”.

Sapardi Djoko Damono pernah menulis sajak romantis penuh angan: 

Aku ingin mencintaimu
Dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat
Diucapkan kayu kepada api
Yang menjadikannya abu

Kita juga bisa membuat sajak kerinduan dengan menulis “Aku ingin”

Aku ingin pulang, Bu. Menikmati sayur kelor buatanmu. Atau pepes tahu tempe masakan terakhir dari tanganmu. Pulang ke rumahmu. Rumah yang selalu hangat dengan senyuman dan pelukanmu. Rumah yang bahagia hanya dengan rebusan atau bakaran singkong di kebun. Rumah yang damai dengan rindangnya nasehat-nasehatmu yang banyak maknanya.

Titik Damayanti dalam Puisi | Aku ingin Pulang (vnn.co.id)

Kita juga bisa berfantasi memakai kata “bayangkan”, seperti yang dilakukan John Lennon: 

Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people
Sharing all the world… You…

Ingin menulis puisi apa hari ini?

Rumi 10

Rumi 10

Belajar Rumi

(Puisi Janji)

  • Rumi Daylight (Camille & Kabir Helminski)
  • Rumi’s Daily Secrets (HB Jassin)

010

10 JANUARI, 2022

There are true promises that make the heart grateful;
there are false promises, fraught with disquiet.
The promise of the noble is sterling;
the promise of the unworthy breeds anguish of the soul.

Mungkinkah kita menulis puisi seperti Rumi?

Ah tidak usah Rumi. Orang yang hidup di masa kini deh. Misalnya, Paul Simon, penyanyi dan pencipta lagu asal AS. Simon menciptakan lagu The Sound of Silence yang sangat puitis dan dinyanyikannya bersama pasangan duetnya: Garfunkel. Ini liriknya:

Hello, darkness, my old friend
I’ve come to talk with you again
Because a vision softly creeping
Left its seeds while I was sleeping
And the vision that was planted in my brain
Still remains
Within the sound of silence

Simon melakukan personifikasi terhadap kegelapan, dengan memanggilnya sebagai “my old friend”. Simon menggambarkan penglihatan yang memupus hingga tertinggal bayang-bayang yang  tertangkap dalam kesenyapan.

Karena Simon ada di era yang sama dengan kita hidup, syair dalam lagu lebih mudah dibedah daripada puisi Rumi. Untuk membedah puisi Rumi kita perlu memahami konteks kehidupannya dan bahasa yang digunakannya.

***

Kalau kita ingin belajar menciptakan puisi, maka kita perlu mengadopsi teknik belajar Ki Hajar Dewantara yang disebut dengan 3N, yaitu  niteni, nirokake, nambani. Niteni artinya memperhatikan, nirokake artinya meniru, dan nambahi artinya menggubah.

Niteni adalah mengamati, seperti yang kita lakukan pada syair Sound of Silence. Niteni tidak terbatas pada mengamati bentuk puisi, namun juga isinya. Bentuk terkait dengan ekspresi atau pemakaian bahasa, sedangkan isi terkait dengan konteks.

Bentuk sajak hari ke-10 sama dengan semua sajak Rumi dalam Masnawi 1-6, yaitu kuplet (couplet): setiap sajak terdiri dari dua baris. Sajak di atas merupakan kuplet ke-179 dan ke-180 Masnawi I.

Untuk memahami sajak hari ke-10, kita perlu membaca sajak sebelum dan sesudah kedua kuplet itu. Sajak tentang janji itu merupakan bagian dari kisah seorang raja yang kasmaran pada gadis bersahaja dari lingkungan rakyat jelata. Gadis itu jatuh sakit dan raja pun memanggil tabib-tabib untuk mengobati. Namun tidak ada yang berhasil. Dalam mimpinya  raja mendapat petunjuk bahwa seorang tabib akan datang untuk mengobati gadis itu. Raja menduga tabib itu merupakan jelmaan malaikat.

Setelah memeriksa si gadis, tabib mengatakan,

“ I know why you are ill
and I will at once display the arts of magic in delivering you”

Janji tabib itu yang diucapkan dengan kata-kata lembut itu menenangkan si gadis. Janji itu memberi harapan bahwa kesembuhan akan menggusur penyakit si gadis.

Janji merupakan salah satu tema di dalam sajak Rumi di Masnawi. Kata “janji” muncul  60 kali di buku Masnawi jilid 1-6 yang berjumlah 25.630 kuplet. Tidak banyak, memang. Tetapi kalau kita dalami tema “janji” kita akan dapat menguak jalan pemikiran Rumi, dan mungkin bisa menirukannya. Siapa tahu?

***

Nirokake puisi Rumi? Kita lihat yuk sajak-sajak bertema janji yang berjumlah 60 baris dan menyebar di berbagai cerita pada keenam buku Masnawinya. Tema janji dalam Masnawi terbagi menjadi tiga tipe:

  1. Tindakan yang memberi harapan

The promises and soothing words of the physician
made the sick safe from fear.

(I -179 — Baca: Masnawi I, Kuplet 179, Terjemahan Helminski)

Sajak ini merupakan bagian dari cerita raja dan gadis pujaannya. Janji di atas diucapkan oleh tabib saat si gadis sakit. Janji itu mendatangkan harapan bahwa penyakit si gadis akan terobati.

2.  Tindakan yang mendatangkan kekecewaan

“I said,” cried the lion, “that the promise of those vile ones
would be vain, vain, frail and unfulfilled.”

(I-1057)

Ini adalah cerita tentang singa yang tengah menunggu janji hewan-hewan di hutan yang akan mencukupi kebutuhan perutnya.

For a long while he promised to-morrow and tomorrow;
his thorn bush became robust in constitution

(II-1232)

Pada Masnawi II ada kisah seorang gubernur yang berhadapan dengan warga yang menanam semak berduri di tengah jalan. Orang itu berjanji akan mencabut pohon itu tetapi tidak kunjung dilaksanakan.

3. Pernyataan yang mengandung belief

Tipe ketiga ini merupakan kata-kata bijak yang terasa sebagai suara Tuhan.

The high God has boasted of faithfulness: He has said,
“Who but I am most faithful in keeping a promise?”

(III-323)

Teks ini ada di cerita Nabi Isa a.s. menyembuhkan orang-orang yang sakit.

I made a promise to God, crying,
‘O gracious One, do You free my legs from this bondage

(V-2629)

Bait ini merupakan bagian dari cerita kaum sodom.

Janji merupakan ketidakpastian, dan ketidakpastian punya potensi besar untuk digarap menjadi baris-baris yang menyentuh hati. Di dalam harapan ada tanya, keraguan, kecemasan, kesedihan. Janji tipe 1 dan tipe 2 dapat menjadi inspirasi untuk menghasilkan puisi yang beremosi. Karena kita bukan Rumi, pastinya kita tidak menggarap tipe yang ke-3. 

***

Kita sampai pada bagian yang paling menantang, nambahi (menggubah). Kalau kita adalah pemula, maka kita bisa mengawalinya dari hal-hal sederhana.

Paling mudah adalah memakai kacamata anak. Ketika anak saya masih SD, dia membuat puisi Hari Ibu yang tidak memuji-muji saya sebagai ibu yang telah mengandung 9 bulan. Dia bilang: Aku sayang Mama, tapi mamaku peliiit.

Penyair pun kadang menjadi naif seperti anak. Sapardi Djoko Damono menulis puisi tentang perahu kertas:

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan

 Yudhistira ANM menulis tentang sajak dolanan anak.

Sebuah boneka, namanya Poppy, punya Nency

Sebuah senapan, harganya mahal, punya Robby

 Joko Pinurbo menulis tentang Maria yang mengambilkan celana untuk putranya saat disalib, sambil bertanya: “Paskah?” Dengan celana yang pas itu Isa terbang ke langit. 

Jadi di tahap menggubah, tidak perlu mencari tema yang yang “tinggi” seperti The Sound of Silence, cukup kembali ke masa kecil. 

Sudah siap mencari janji di masa kecil?

 

 

Rumi 9

Belajar Rumi

009

9 JANUARI, 2022

Rumi’s Daily Secrets
Jalaludin Rumi
HB Jassin

Rumi’s Daily Secrets
Camille & Kabiir Helminski

Foto Capri32Auto, Pixabay

When your heart becomes the grave of your secret,
that desire of yours will be gained more quickly.
The Prophet said that anyone
who keeps secret his inmost thought
will soon attain the object of his desire.
When seeds are buried in the earth,
their inward secrets become the flourishing garden.

Di sajak hari ke-9 ini Rumi sedang bicara tentang dirinya. Dia adalah seorang yang penuh rahasia. Brad Gooch, penulis biografi Rumi, sampai memberi judul  bukunya, Rumi’s Secret, Kata “secret‘ berbentuk tunggal, bukan jamak. Mungkin Gooch memperlakukan kata “secret”  itu sebagai uncountable noun  karena rahasia Rumi bagai debu-debu padang pasir: tak terhitung.

Gooch mengatakan bahwa Rumi termasuk dalam kelompok penyair besar yang berahasia sampai akhir hayat mereka. “Like Whitman, or like Shakespeare, he never tells his secret.” 

Whitman, Shakespeare dan Rumi punya kesamaan: masa kecil dalam kehidupan yang sulit. Apakah ini yang menyebabkan mereka dapat menulis dari kedalaman hati dan mengolah persoalan-persoalan kehidupan? Seseorang yang punya kehidupan baik-baik saja tidak akan pernah merasakan sakitnya tertusuk duri (sajak Rumi hari-8), atau sulitnya keterbatasan jarak pandang karena tabir (hari ke-1). Whitman pun tidak akan mungkin menghasilkan puisi The Song of Me, kalau dia tidak merasakan himpitan dalam dirinya.

***

Walt Whitman, sastrawan besar Amerika Serikat, hidup di abad ke-19. Masa kecilnya dijalaninya dengan berpindah dari satu rumah ke rumah lain, sejalan dengan pekerjaan yang dijalani ayahnya. Sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara, dia terpaksa berhenti sekolah di usia 11 tahun dan mulai bekerja  sebagai pesuruh di percetakan.

Perkenalannya dengan percetakan  membuatnya tertarik pada dunia tulis menulis. Di kemudian hari Whitman mencetak sendiri kumpulan puisi yang membuatnya terkenal, Leaves of Grass.  Orang menyebut puisi itu Amerika banget, karena segi bahasa, bentuk dan isi yang penuh kebaruan.

Ada misteri yang membuat orang kepo: tentang orientasi seksual Whitman. Di dalam puisinya samar-samar terbaca bahwa Whitman seorang homoseksual, namun rahasia itu dibawa Whitman dalam senyap ke kuburnya.

***

Siapa sesungguhnya yang menulis karya-karya Shakespeare? Pertanyaan itu menggema empat abad setelah Shakespeare, ikon sastra Inggris, wafat. Pasalnya Shakespeare tidak meninggalkan catatan pribadi yang yang menunjukkan bahwa karya-karya itu miliknya. Apalagi dia berasal dari keluarga kelas bawah, dan tidak berpendidikan. Menjadi pertanyaan bagaimana Shakespeare mendapat exposure tentang sastra?

Will in the World, How Shakespeare became Shakespeare, yang ditulis oleh John Greenbalt, professor humaniti di Harvard University, merupakan literary biography yang menggambarkan bagaimana Will menjadi William Shakespeare. Menurut Greenbalt, sangat mungkin sejak kecil Will mendapat sitimulasi literasi yang kaya dari orang tuanya. Kemungkinan ketika kecil ibunya sering membisikkan nursery rhymes, semacam ini:

Pillycock, pillycock, sate on a hill,
If he’s not gone—he sits there still.

Setelah dewasa, Shakespeare menulis lirik “Pillicock sat on Pillicock-hill,” dalam drama King Lear. Di dalam cerita, lirik itu dinyanyikan oleh Poor Tom, seorang tokoh miskin. tidak waras, namun pintar mengulik kata-kata.

Poor Tom sepertinya merupakan gambaran Shakespeare: sosok dari kelompok marginal. Mungkin Greenbalt ingin menunjukkan bahwa kita tidak bisa memberi judgement pada kondisi fisik dan materi seseorang. Boleh jadi, untuk seorang Shakespeare yang tidak memiliki kelebihan materi, “He heard things in the sounds of words that others did not hear; he made connections that others did not make; and he was flooded with a pleasure all his own.”

***

Seperti komentar Greenbelt, Rumi pernah menulis hal yang mirip. Saya ambil dari buku Gooch:

The secret of my song, though near,
None can see and none can  hear    

Sekalipun kita mendengar sebuah lagu (atau sajak), ada rahasia yang tidak terdengar. Atau mungkin kita akan mendengarnya kelak, sejalan dengan pengalaman dan penghayatan kita?

Contohnya penghayatan saya saat membaca sajak hari pertama Daylight tulisan Helminski

The Beloved is all, the lover just a veil

Semula saya kurang paham mengapa Rumi mengkontraskan “all” (sebagai sifat Allah) dan “veil” (sebagai sifat manusia). Saya bertanya, apa medan makna “veil” bagi lingkungan kehidupan Rumi? Tabir mulai terungkap ketika saya membaca masa kecil Rumi di buku Gooch:

Like most young children, until puberty Rumi spent his earliest childhood years behind the protective walls of the harem, a more intimate and separate domain in a traditional Muslim household, where the women lived and walked about unveiled.

Dari teks di atas saya menginterpretasikan bahwa Rumi kecil belajar tentang kategorisasi: “perempuan – laki”, “di dalam – di luar rumah”, “pembatasan – keleluasaan” dari kehidupan abad ke-13 yang dijalaninya.

Ketika membandingkan Allah dan manusia, dia memakai pembanding “all” (tak terbatas), dan “veil“(pelengkap busana yang membatasi). Konotasi “veil” dalam kalimat Gooch menunjukkan bahwa di dalam pembatasan itu ada keleluasaan dan keamanan: perlindungan, privasi, dan kebebasan bergerak.

Dari pembatasan itu mungkin Rumi belajar untuk menyimpan banyak hal tentang dirinya dalam karya-karyanya. Seperti dikatakan Gooch, Rumi did have secrets—personal, poetic, and theological —that he was always both revealing and concealing.  Ada sebagian yang disampaikan, dan banyak yang disimpan, dalam hal pribadi, puisi dan keagamaannya.

Bu Widarti punya kalimat menarik tentang sajak hari ke-9 ini: Having secrets is sexy. Ya, betul juga ya. Orang jadi penasaran tentang “apa yang kita tutupi”, atau menduga-duga apakah ada lagi yang belum kita buka.

Keraguan atas Whitman dan Shakespeare bisa menjadi hipotesis kalau dalam kerangka ilmiah, tapi juga bisa jadi prasangka kalau versi Lambe Turah.

Bagaimana kalau kita terapkan sajak hari pertama Daylight itu? Bahwa manusia itu hanyalah tabir. Area kita adalah semua tampak jelas dari dalam tabir.  Jadi, sepanjang kita menikmati dan tercerahkan oleh karya-karya pujangga itu, di situlah area keindahan yang menjadi hak kita.

 

Rumi 8

Belajar Rumi

008

8 JANUARI, 2022

Rumi’s Daily Secrets
Jalaludin Rumi
HB Jassin

Rumi’s Daily Secrets
Camille & Kabiir Helminski

A thorn in the foot is hard to find.
What about a thorn in the heart?
If everyone saw the thorn in his heart,
when would sorrow gain the upper hand?

“Duri” pada sajak hari ke-8 ini ibarat “padanan kata” pada bahasa sasaran. Duri diciptakan untuk melindungi tanaman. Begitu juga, kata yang dipadankan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran dimaksudkan agar pesan yang terkandung pada teks asli tetap terjaga. Nah kalau kita bisa mendapatkan padanan kata yang tepat, pembaca pada bahasa sasaran akan memahami teks seperti pembaca pada bahasa sumber. Istilah gampangnya, penerjemahan pun beres.

Duri bisa menyakitkan bila mengenai tubuh manusia. Begitu juga dengan penerjemahan, bila diksi tidak tepat, pembaca teks terjemahan akan merasakan hal yang aneh.

Hari ke-2

Dalam proses penerjemahan karya Rumi, sangat mungkin akan muncul duri yang menyakitkan. Secara geografis dan secara waktu terentang jarak yang panjang antara Rumi, penerjemah dan pembaca. Misalnya, pada sajak kedua ada kata “veil”. Agar bisa memahami mengapa Rumi memakai kata itu sebagai metafora cara pandang manusia (the lover), kita perlu memahami makna veil dalam konteks kehidupan Rumi. Siapa yang memakai veil, kapan dipakai? Apa warna dan bagaimana ketebalannya?

Pak Jassin menerjemahkan “veil” dengan “tabir” untuk menunjukkan terbatasnya segala hal yang dipunyai manusia, seperti jarak pandang yang dimiliki seseorang yang memakai veil.  Kata “tabir” lebih netral daripada “veil“.

Hari ke-4

Pada hari ke-4 saya menjadi tidak puas dengan teks yang dipenggal-penggal, baik di buku Pak Jassin maupun Helminski. Di buku Pak Jassin, tertulis

Orang tidak disiplin tidak hanya merugikan diri sendiri–

dia akan membakar seluruh dunia,

Disiplin dapat membuat surga penuh terisi cahaya,

disiplin dapat membuat para malaikat bersih dan suci.

Penerjemahan di atas membuat Ibu Widarti, partner saya dalam membaca Rumi, menulis di WA: “Kenapa disiplin bisa membuat malaikat bersih dan suci?” Ibu Widarti tertusuk duri!

Ya, sajak itu penuh duri karena kita tidak mengerti maksudnya. Agar memahami konteksnya, sayapun mencari sajak Masnawi I dan II yang dipakai Helminski untuk menulis Daylight. Alhamdulillah di website Helminski ada file Masnawi I-VI. Bahkan ada versi Persia, di samping terjemahan bahasa Inggris.

Di Masnawi I saya menemukan bahwa kata “discipline” (terjemahan Helminski) berasal dari kata Persia “adab”. Kata “adab” berarti “budi pekerti; kesantunan, akhlak.” Entah mengapa Helminski menggantinya dengan kata “disiplin” di dalam buku Daylight. Sajak hari ke-4 di Daylight diambil dari Masnawi I baris ke-79 dan ke-91:

Baris ke-79:

The undisciplined man does not mistreat himself alone,
but he sets the whole world on fire.

Baris ke-91:

Through Adab this Heaven has been filled with light,
and through discipline the angels became immaculate and holy.

Seharusnya baris 92-93 juga disertakan karena ada tokoh Azazil:

By reason of Adab the sun was eclipsed,
and insolence caused an ‘Azazil to be turned back from the door

Tokoh Azazil menjadi penting, untuk mempertajam karakter malaikat. Dalam konteks Quran, malaikat dan Azazil (iblis) adalah sosok dengan sifat yang bertentangan, sedangkan manusia terombang-ambing di antara keduanya. Manusia bisa baik kalau mendengarkan suara malaikat, dan bisa memiliki karakter negatif kalau mendapat pengaruh iblis.

Dengan melihat konteks itu, kita bisa memberikan padanan “adab” dengan lebih tepat untuk manusia dan malaikat.  Untuk manusia, kata “adab” bisa dipakai, sedangkan untuk malaikat kata yang lebih pas adalah “patuh” (usulan Bu Widarti).

Saya juga berkonsultasi kepada seorang kerabat yang pernah kuliah di Fakultas Sastra Jurusan Arab UI, mengenai penerjemahan yang tepat untuk kata “adab” dalam teks itu. Dia mengatakan bahwa untuk sosok malaikat, kata “patuh” atau “tunduk” lebih tepat.

Duri pun tercabut.

Hari ke-6

Sajak hari ke- 6 berbunyi

The lover’s ailment is not like any other;
Love is the astrolabe of God’s mysteries.
Whether Love is from heaven or earth,
it points to God.

Lover’s ailment ini membuat saya bingung. Apa ya maksudnya?  Dari pengelanaan di internet, saya membeli Senandung Cinta Abadi yang diterjemahkan oleh Abdul Hadi WM. Pak Abdul menulis dalam bentuk semiprosa: berupa cerita, dengan tetap mempertahankan susunan sajak Masnawi. 

Dari teks Senandung Cinta saya paham bahwa Masnawi I, baris 35-245, berkisah tentang seorang raja yang jatuh hati kepada perempuan dari kalangan rakyat jelata. Ketika perempuan itu sakit (the lover’s ailment), raja memanggil tabib-tabib untuk menyembuhkannya. Pesan Rumi terselubung dalam rasa cinta raja kepada perempuan itu, rasa sakit, dan perilaku tabib. 

Membaca teks Pak Abdul Hadi seperti menemukan ujung duri yang tertancap di kaki, dan dapat diupayakan langkah untuk mencabutnya.

Hari ke-8

Nah, pada hari ke-8 ini saya menemukan duri pada terjemahan Pak Abdul Hadi. Teks terjemahan versi Helminski adalah

A thorn in the foot is hard to find.
What about a thorn in the heart?
If everyone saw the thorn in his heart,
when would sorrow gain the upper hand?

Di dalam teks di atas ada idiom, yaitu “gain the upper hand over any one”, yang diterjemahkan menjadi “berkuasa” oleh HB Jassin.

Duri dalam kaki sukar ditemukan.

Apalagi duri dalam hati,

Jika ada orang yang melihat duri di hatinya,

mana mungkin kesedihan akan berkuasa?

Untuk baris terakhir, Ibu Widarti mengusulkan kata “duka” sebagai pengganti “kesedihan”. Idiom “gain the upper hand”  berarti “take control” (kamus Cambridge), jadi terjemahan baris terakhir, menurut Ibu Widarti, adalah “Kapan duka bisa diatasi?” 

Pada buku Senandung Cinta, Pak Abdul Hadi menerjemahkan sebagai berikut:

kapan duka cita akan mengangkat tangannya lebih tinggi melebihi tangannya sendiri?

Ketika membaca teks ini saya bertanya tangan siapa yang dimaksud? Pak Abdul Hadi tidak memperlakukan “gain the upper hand” sebagai idiom tetapi kata per kata.

Satu hal yang menarik. Ada frase nomina yang dihilangkan Helminski, namun ada pada Masnawi, yaitu low fellow:

If every low fellow had seen the thorn in the heart,

when would sorrows gain the upper hand over any one?

Reynold  Nicholson, penerjemah Masnawi dari bahasa Persia ke bahasa Inggris menyebutkan base fellow.

If every base fellow had seen the thorn in the heart

 

Pada awalnya saya menjadi curiga apakah low/base fellow ini mengacu pada si gadis rakyat jelata idaman raja. Namun karena penggunaan kata ganti kepunyaan maskulin (his), saya berasumsi Rumi sedang bercerita tentang orang awam pada umumnya. 

Cukup pelik ya menukil duri dari kaki. Ya begitulah dengan penerjemahan. Kita mesti hati-hati dan cermat dalam mengalihkan bahasa agar tidak tertancap duri di tubuh pembaca bahasa sasaran.

 

Rumi 7

Belajar Rumi

007

7 JANUARI, 2022

Rumi’s Daily Secrets
Jalaludin Rumi
HB Jassin

Rumi’s Daily Secrets
Camille & Kabiir Helminski

Foto Monsterkoi, Pixabay

My friend, the sufi is the son of the present moment: to say “tomorrow” is not our way.

Sejak hari ke-7 tepat untuk kondisi saya saat ini. Saya lelah setelah enam hari membaca Rumi, dan rasanya ingin beristirahat.

Saya cukup terkejut karena di beberapa website disebutkan bahwa Rumi adalah seorang Syiah. Ada beberapa bukti-bukti di dalam teksnya yang mengarah pada hal itu.

Hmm hmm hmm ….

Yang saya khawatirkan adalah persepsi orang. Mungkin orang tua murid di sekolah saya akan meragukan keislaman saya, begitu juga keluarga saya. Saya teringat pada seorang kerabat yang kelihatan ogah-ogahan ketika saya tanya apa makna dari sepenggal kalimat Rumi. 

Well, saya hanya menganggap Rumi sebagai filsuf dan sastrawan. Karya Rumi seperti halnya karya-karya sastrawan Inggris yang saya baca ketika kuliah –yang jelas-jelas bukan Muslim– juga filsuf-filsuf Barat seperti Nietschze yang ateis. Dan … what I read have not defined me. Saya tetap seorang Muslimah dengan naik turun spiritualitas saya. Karya-karya itu memperkaya wawasan saya dan mempertajam daya persepsi saya, namun tidak membuat saya menjauh dari apa yang sudah ditanamkan oleh orang tua saya. 

Soo … sajak hari ini menjadi penting: be mindful, tak usah melihat ke depan yang belum jelas. 

 

 

× Hubungi saya